Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Segera di Gelar JAYAWIJAYA CUP I di Kota Surabaya
![]() |
| Brosur pertandingan Jayawijaya Cup I di Surabaya |
Pertandingan tersebut akan dilangsungkan bulan berjalan ini tepatnya tgl. 21-24 Sep 2017, di Lap. Kuang-kunang, belakang Stikom, surabaya. Pertandingan ini digelar dalam rangka Seminar dan Natal IKB-PMPJ di Malang bulan desember mendatang.
Kegiatan ini sendiri selain dalam rangka pencarian dana untuk seminar dan natal, juga dimaksudkan agar dapat menjadi momen dimana Mahasiswa/I meningkatkan tali persaudaraa atau jalin silahturami sebagai satu keluarga (Papua) khususnya untuk mahasiswa papua kota studi surabaya dan sekitarnya.
Kompetisi ini sangat baik karena dapat menjadi kesempatan untuk kita umumnya sebagai orang Papua di tanah rantau bersatu dan persolid kebersamaan dan kekompakan kita jadi berharap agar teman-teman Mahasiswa/I papua dapat berpartisipasi. Harap,Nelky
Kemudian juga himbauan bahwa kegiatan ini telah diundurkan tanggal 28-30 dari yang sebelumnya tanggal 21-24, dikarenakan banyaknya kegiatan paguyuban-paguyuban juga mahasiswanya entah di kampus dll. Junjung tinggi Kreatifitas dan Sportifitas !!
#PapuaBrothers,PapuaUnity,TogetherStronger,UnityinDiversity,OnepeopleOnesoul.#
Koyao,Amolonggo,Nare,Acemo,Jefmu,Men,Tabea.FoiMoi,Walak,Nayaklak,Dormom,
Wanyambe,Kinaonak,Wiwao,Amakanie "
Larang Mahasiswa Papua Demonstrasi, Polisi Kepung Asrama Papua di Surabaya
![]() |
| Aparat keamanan gabungan kota surabaya, melarang mahasiswa untuk demo (Foto: Oscar.G) |
Hal itu karena sejak pukul 06.00 WIB, sebanyak delapan
mobil polisi telah parkir di depan asrama papua di Jalan Kalasan No. 10
Surabaya untuk melarang mereka aksi.
Sebelumnya para mahasiswa
ini hendak menggelar aksi damai menuntut penyelesaian kasus penembakan
di Deiyai, Papua. Surat pemberitahuan terkait aksi ini pun telah
disampaikan ke aparat kepolisian Surabaya.
Stefanus, salah satu
mahasiswa mengatakan, pada pukul 08.00 WIB saat mereka hendak keluar
turun aksi ke jalan, pihak kepolisian Surabaya telah berada di depan
Asrama. Aparat Kepolisian yang telah datang sejak pukul 06.00 WIB.“Sekitar jam 06.00 WIB, sebanyak delapan mobil sudah parkir di depan
Asrama.
Kemudian saat mereka mau berangkat sekitar jam 08.00 WIB,
situasi di luar asrama sudah banyak aparat dari gabungan seperti Intel
dan sebagainya. Sehingga kami susah keluar,” kata Stefanus kepada Negnesian,com, Rabu, (09/08/2017).
Menurut Stefanus, pihak
kepolisian parkir di depan asrama, untuk melarang mereka turun aksi ke
jalan. Alasannya, karena ada aksi tandingan dari Ormas.“Sehingga mereka tidak izinkan kami untuk turun ke jalan,” ungkapnya.
Stefanus
menjelaskan, selama mereka turun untuk aksi di jalan, belum pernah ada
aksi tandingan dari Ormas manapun. Justru yang ada adalah Intel
Kepolisian yang membubarkan aksi mereka.
“Kami sudah bernegosiasi
dengan aparat Kepolisian untuk tetap turun aksi sesuai surat
pemberitahuan, tapi memang tidak diizinkan,” ungkapnya.
Saat ini
para mahasiswa Papua ini masih bertahan di asrama Papua Surabaya. Mereka
didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya. (Admin)
KNPB Yalimo Tolak Pembangunan Polres dan Polsek
Salah satu ruas jalan di Elelim, Kabupaten Yalimo. Foto: Islami.
Sumber: http://www.tabloid-wani.com/2017/08/knpb-yalimo-tolak-pembangunan-polres-dan-polsek.html
Sumber: http://www.tabloid-wani.com/2017/08/knpb-yalimo-tolak-pembangunan-polres-dan-polsek.html
WAMENA,Neg-- Komite Nasional Papua
Barat (KNPB) wilayah Yalimo menolak adanya rencana pembangunan Polres Yalimo
dan beberapa Polsek di lima distrik di Kabupaten Yalimo.
“Dengan alasan, kami
lebih pentingkan keamanan masyarakat setempat,” ujar Ketua KNPB wilayah Yalimo,
Wene Gombo di Wamena, Selasa (1/8/2017). Menurutnya, sebelum ada Polres dan
Polsek di Kabupaten Yalimo, keamanan masyarakat berjalan aman.
Beberapa contoh
pembunuhan dan masalah kecil lainnya masyarakat bisa menyelesaikan sendiri.
“Tetapi kalau kehadiran kepolisian persoalannya tidak akan selesai dengan
melihat beberapa kasus kabupaten lain.
Kami akan fasilitasi semua kepala
kampung dan masyarakat biar mereka sendiri yang akan bicara, keuntungan dan
kerugian jika Kepolisian hadir di Yalimo,” ucapnya. Menanggapi itu Kapolres
Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba menegaskan bahwa di manapun di wilayah
Republik Indonesia Polri harus hadir diminta maupun tidak diminta.
Menurutnya,
Bupati Yalimo sebelumnya Almarhum Er Daby sudah memberikan surat hibah penyerahan
lahan untuk pembangunan Polres Yalimo ada enam Polsek seperti Polsek Abenaho,
Benawa, Polsek Elelim, Apalapsili dan semua itu sudah diprogramkan.
“Itu saya
kira hanya oknum orang saja, saya juga akan koordinasikan dengan Bupati Yalimo,
untuk lanjutkan ini. Karena tidak ada masyarakat yang menolak pembangunan
Polres di sana,” tegas Kapolres.
Kapolres akan menindaklanjuti dan mencari tahu
alasan penolakan itu. Ia berpendapat, Polisi tidak ada kaitan dengan masalah
politik, karena polisi hadir untuk memberikan pelayanan dan keamanan kepada
masyarakat. “Untuk pembangunan Polsek-polsek di seluruh wilayah Polres
Jayawijaya baik di Yalimo, Nduga, Mamberamo Tengah dan Jayawijaya tidak ada
kata untuk dilarang membangun,” katanya.
Kapolres pun menjelaskan, rencana
lokasi untuk penempatan personil sudah disurvei dan dipersiapkan. Ia mengatakan
untuk penerimaan polisi baru akan ditempatkan secara bertahap.
“Yalimo akan
segera dalam proses Polres persiapan begitu juga dengan Kabupaten Nduga,
Kapolda pun sudah perintahkan agar segera dibuat peningkatan status Polsek
menjadi Polres persiapan,” tambahnya. (Admin)
Sumber: http://www.tabloid-wani.com
Sumber: http://www.tabloid-wani.com
Pembubaran Secara Paksa Aksi Demo Damai Aliansi Mahasiswa Papua KK Surabaya
![]() |
| Aksi demo damai Aliansi Mahasiswa Papua hari ini, Rabu/02/2017. Di monumen kapal selam kota Surabaya (Foto:Melqy) |
SURABAYA,Neg-- Aksi Demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua
(AMP) KK Surabaya, dalam rangka memperingati hari manipulasi hak politik rakyat
papua. Pelaksanaan PEPERA 1969 yang TIDAK DEMOKARATIS. Dini
hari,Rabu.03/08/2017. Di depan monumen kapal selam, Kota Surabaya.
Demonstrasi yang dilaksanakan pada hari ini 02 agustus 2017
adalah momentum dimana telah terjadi penghianatan secara sepihak anatara
Belanda dan Indonesia pada dekade 1960an. Yang kemudian membawa kedua Negara pada
perundingan New York Agreement/ Perjanian New York. Peranjian ini terdiri dari
29 pasal yang mengatur 3 macam hal diantaranya; Pertama, Mengatur tentang
penentuan nasib sendiri (self determination) sesuai aturan internasional yaitu “satu
orang satu suara” (one man one vote). Kedua, transfer administra dari PBB
(United Nations Temporary Excecutive/UNTEA) Kepada pemerintah Indonesia yang
kemudian dilakukan aneksasi pada 1 mei 1963 yang Indonesia sebut hari integrasi
kedalam pangkuan Indonesia.
Sebelumnya pada 30 september 1963 perna dikeluarkan “ Roma
Agreement/Perjanjian Roma” yang intinya agar Indonesia mendorong pembangunan
dan mempersipakan pelaksanaan Act of Free Choice (tindakan pilih bebas) pada
tahun 1969.
Namun Indonesia sebaliknya mobilisasi militer secara
besar-besaran ke papua untuk meredam gerakan Pro-Merdeka. Operasi khusus yang
dipimpin oleh Ali Murtopo bertugas untuk memenangkan penentuan pendapat rakyat
(PEPERA) adapun operasi-operasi itu anatara lain; Operasi sadar, Operasi
kancil, Operasi Bhrathayudha, Operasi Wibawa dan Operasi Pamukas.
Akibat dari operasi-operasi ini yang menyebabkan pelanggaran
luar biasa di tanah papua, adapun pelanggaran itu yakni. Penangkapan,
penahanan, pembunuhan, pelecehan seksual, pelecehan kebudayaan dan rasialis
dalam kurun waktu 6 tahun hingga hari ini.
Kemudian hal lebih ironis yakni Kontrak Karya PT. Freeport
McMoran, perusahaan tambang milik Negara Imperialis Amerika pada rezim Soeharto
kala itu. Yang mana klaim atas wilaya dan area operasi Freeport dilakukan 2
tahun sebelum (PEPERA 1969). Prinsip pemerintah Indonesia rejim soeharto,
apapun alasannya papua harus masuk dalam kekuasaan pemerintah kolonialis Indonesia.
Tepat 14 Juli-2 Agustus 1969, PEPERA dilakukan. Dari 809.337
orang papua yang memiliki hak, hanya diwakili 1025 orang sebelumnya sudah
dikarantina dan cuman 175 orang yang memberikan pendapat. Musyawarah untuk
mufakat melegitimasi Indonesia untuk melaksanakan PEPERA yang tidak demokratis,
penuh terror, intimidasi dan manipulasi serta ada pelanggaran ham berat yang
juga digencarkan secara sistematis mendekati pelaksanaan PEPERA.
Hingga hari ini nampaknya praktek kolonialisme, imperialism dan
militerisme diterapkan oleh pemerintah Indonesia hingga saat ini, untuk meredam
aspirasi Pro kemerdekaan papua barat. Kesenjangan social/keserjahteraan menjadi
alas an untuk menutupi aspirasi kemerdekaan rakyat papua dari pandangan luas
rakyat Indonesia dan masyarakat Internasional.
Kronologis dan Pernyataan:
Aksi damai yang hendak di gelar oleh Mahasiswa Papua yang
tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua. Titik kumpul: Monumen kapal selam
hingga selesai depan gedung grahadi, mendapatkan tindakan represif dari aparat
keamanan.
Aksi yang rencana akan dimulai dari Jam 09.00 hingga selesai
depan grahadi ini tidak terlaksana,dikarenakan tindakan Aparat Kepolisian Resort Kota Surabaya yang Melarang hingga Menghentikan secara paksa. Sempat dilakukan upaya
oleh masa aksi aliansi mahasiswa papua yang berjumla kurang lebih 10 hingga 15
orang ini, namun aparat keamanan dalam hal ini polisi,intelkam dan diduga ormas
(tidak jelas) bekerja sama membubarkan
secara paksa masa aksi.
Tindakan represif aparat untuk menutup ruang gerak hingga
terjadi aksi saling dorong- mendorong hingga para masa aksi didorong hingga
kembali ke titik kumpul. Dan kemudian para mahasiswa atau masa aksi berkumpul
dengan prinsip atau kesimpulan bahwa “Ini adalah bentuk Pembungkaman Ruang
Berekspresi dan Demokrasi”. Kemudian masa aksi pulang ke honai besar, kamasan III dan membuat pernyataan sikap/ Jumpa pers karena tidak dilaksanakan di lokasi aksi akibat tindakan aparat yang represif.
Maka, dalam peringatan 48 Tahun Penentuan Pendapat Rakyat
(PEPERA) yang tidak demokratis, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Menuntut kepada
Pemerintah Indonesia dan PBB untuk segera:
1.) Menutup dan menghentikan aktifitas eksploitasi
semua perusahaan multi nasional corporation dan lain-lain dari seluruh tanah
papua.
2.) Menarik militer Indonesia (TNI-Polri) Organik
dan non organik dari seluruh tanah papua untuk menghentikan segala bentuk
kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Negara Indonesia terhadap rakyat papua.
3.) Negara bertanggung jawab atas kejahatan
kemanusiaan di papua barat dan segera
menangkap dan mengadili actor kejahatan kemanusiaan.
4.) Kami menolak dengan tegas pembangunan pangkalan
TNI AU Tipe C dan Mako Brimob di Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Jayawiaya.
5.) Bebaskan Obby Kogoya, korban peristiwa
pengepungan polisi dan preman di asrama kamasan, Yogyakarta.
6.) PBB harus bertanggung jawab untuk meluruskan
sejarah PEPERA dan Proses Aneksasi Papua Barat ke Indonesia.
7.) PBB harus membuat resolusi untuk Memberikan
Referendum Kemerdekaan bagi Bangsa papua barat yang sesuai dengan Hukum
Internasional.
8.) Berikan kebebasan dan Hak Menentukan nasib
sendiri sebagai solusi demokratis bagi Rakyat Papua.
Demikian pertanyaan sikap, kami akan terus menyuarakan perlawanan atas segaka bentuk penjajahan, penindasan dan penghisapan nasional terhadap Rakyat dan Tanah Air Papua hingga rakyat papua barat memperoleh kemerdekaan yang sejati !
Tonton video klip, pernyataan sikap AMP KK Surababaya :
Demikian pertanyaan sikap, kami akan terus menyuarakan perlawanan atas segaka bentuk penjajahan, penindasan dan penghisapan nasional terhadap Rakyat dan Tanah Air Papua hingga rakyat papua barat memperoleh kemerdekaan yang sejati !
Tonton video klip, pernyataan sikap AMP KK Surababaya :
https://www.youtube.com/watch?v=nXUkrI-1mmE
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Recent Posts
IVENT



