Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan

Pemerintah Bolivia Memerintahkan Para Pekerja Ambil Alih Perusahaan

Gambar Presiden Bolivia Evo Morales Ketik Mengeluarkan Dekrit pada Upacara Kepresidenan

Pada  7 Oktober, Presiden Evo Morales mengeluarkan dekrit pemerintah yang memungkinkanpekerja untuk membentuk "perusahaan sosial" menggantikan bisnis yang bangkrut, tutup atau ditinggalkan oleh pengusahanya. 

Morales mengeluarkan Dekrit 1754 pada sebuah upacara di istana kepresidenan yang sedang merayakan ulang tahun ke 62 pendirian Confederación General de Trabajadores Fabriles de Bolivia (CGTFB – Konfederasi Umum Pekerja Industri Bolivia). Menteri perburuhan, Daniel Santall, mengatakan dekrit tersebut  dikeluarkan berdasarkan Pasal 54 dari konstitusi baru Bolivia, yang menyatakan bahwa pekerja dalam “mempertahankan tempat kerja dan untuk mendapatkan perlindungan kepentingan sosialnya, berdasarkan hukum, diperbolehkan mengaktifkan kembali dan mengorganisasikan kembali perusahaan yang sedang bangkrut, proses kreditor atau likuidasi atau penutupan atau ditinggal kabur tanpa dasar, dan boleh membentuk unit usaha sosial atau komunitarian. Negara akan memberi kontribusi kepada aksi para pekerja.” Dalam sambutannya kepada para penonton yang terdiri dari beberapa ratus anggota dan pemimpin serikat buruh, Presiden Morales mencatat bahwa majikan sering mencoba untuk memeras pekerja dengan ancaman untuk menutup ketika dihadapkan dengan tuntutan kenaikan upah. “Sekarang, jika mereka mengancam kalian begitu rupa bahwa perusahaan akan bangkrut atau tutup, tak perlu takut, karena kalian akan menjadi pemiliknya. Dan perusahaan – perusahaan tersebut akan menjadi unit usaha sosial baru.” Katanya. Menteri Tenaga Kerja, Santalla mencatat bahwa pasal konstitusional telah digunakan untuk mendirikan beberapa perusahaan seperti, Instrabol, and Traboltex, dan beberapa perusahaan lagi yang sekarang bisa dibangun di bawah dekrit yang baru.

Para pelaku bisnis memberikan peringatan bahwa ketentuan baru ini akan menjadi disinsentif bagi investasi swasta dan beresiko terhadap kelangsungan hidup perusahaan. 

Santalla juga mengatakan, perusahaan yang tidak mematuhi kewajiban mereka di bawah hukum tenaga kerja akan kehilangan mekanisme khusus dalam mengekspor produk mereka ke pasar yang dikelola negara. Dan ia menyebutkan beberapa kasus baru-baru ini di mana pemerintah telah campur tangan membela pekerja yang jadi korban karena upaya mereka untuk membentuk serikat. Sebagai contoh adalah kasus bulan lalu di Burger King, perusahaan tersebut didenda sebesar 30 ribu Bolivianos (4,300 dollar AS), dan diperintahkan untuk mempekerjakan kembali pekerja yang dipecat dan mengakui serikat buruh yang didirikan oleh pekerja. 

Dalam pasal berikutnya, Alfredo Rada, Wakil Menteri Koordinasi dengan Gerakan Sosial Bolivia, menarik perhatian bagi beberapa pembangunan gerakan yang penting di dalam gerakan buruh dan menyarankan beberapa hal dimana serikat menjadi lebih efektif bekerja dalam “proses perubahan” yang dimenangkan oleh pemrintah MAS – IPSP, gerakan untuk alat politik sosialisme untuk kedaulatan rakyat.(Admin)
Diterjemahkan dari bahasa Spanyol
-- Richard Fidler

Dukung Papua Merdeka, Enam Perenang Akan Berenang Sejauh 69 Kilo di Danau Jenewa


Logo Swim for West Papua. (Swim for West Papua - Foto:Doc)
Jayapura, NegNesian.com,-- Renang untuk Papua Barat adalah dukungan yang dilakukan untuk mendorong dukungan internasional untuk kampanye tentang pembebasan West Papua.
Beberapa waktu lalu, redaksi suarapapua.com berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Joel, kapten tim Renang Untuk West Papua (Swim for West Papua). Berikut ini adalah wawancara Suara Papua dengan sang kapten:


Suara Papua: Mengapa Gerakan Renang Untuk Papua Barat diadakan? 
Kapten tim SWP : Swim for West Papua (Renang untuk Papua Barat) adalah dukungan yang dilakukan oleh masyarakat akar rumput untuk mendorong dukungan internasional untuk Kampanye Pembebasan West Papua 2017.

Suara Papua: Tujuannya?  
Kapten tim SWP: Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional atas tuntutan West Papua untuk merdeka. Kami adalah pendukung dan telah mengetahui isu West Papua cukup lama. Kami juga berharap bahwa kami akan bisa menjangkau orang-orang dan audiens yang tidak mengetahui tentang krisis selama 50 tahun yang melanda West Papua.

Suara Papua: Kami mendengar anda membuat petisi untuk mengumpulkan tandatangan hingga 10 ribu. Dan hingga saat ini sudah mencapai 20 ribu tandatangan. Lalu situs petisi online itu diblokir di Indonesia. Bagaimana anda menjelaskannya?
Kapten tim SWP: Kami bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin tandatangan dari bulan Januari hingga akhir Agustus. Pemerintah Indonesia telah menutup akses petisi ini. Secara pribadi saya percaya bahwa mereka sangat takut akan apa yang bisa terjadi bila kejahatan mereka terhadap Orang Asli Papua diekspos di dunia internasional.

Suara Papua: Kami juga mendengar bahwa petisi yang ditandatangani itu akan dibawa ke PBB. Bagaimana anda menjelaskannya?
Kapten tim SWP: Pada bulan Agustus tahun 2017 ini, saya dan lima orang lainnya akan berenang sepanjang 69 km di Danau Jenewa di Swiss dan kami akan membawa petisi ke PBB. Petisi itu sendiri ditulis oleh ILWP (sebuah organisasi para pengacara internasional untuk West Papua) dan petisi ini mendukung perjuangan diplomatik ULMWP untuk sebuah referendum yang diawasi internasional untuk West Papua.

Kami berharap melalui usaha ini kami dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atas situasi di West Papua dan membantu rakyat Papua meraih jalan ke pembebasannya.
Kami percaya bahwa HAM bersifat universal dan harus diakui dan berlaku untuk semua orang.

Kami mendukung hak West Papua untuk menentukan nasibnya.


Jalan ke pembebasan sangat panjang tapi kami yakin bahwa kami dapat melakukan perjalanan 69km di Danau Jenewa bersama-sama dan bahwa West Papua akan sedikit lebih dekat ke kemerdekaannya ketika usaha kami itu selesai/berhasil.


Suara Papua: Apa pesan anda untuk rakyat Papua Barat?
Kapten SWP tim: Rakyat West Papua, kam semua tidak sendiri. Suatu hari kamu semua akan merdeka. Kami berada di pihak anda semua menuju pembebasan. Papua Merdeka! (Admin)
Suara Papua: Terima kasih.

Sumber: www.suarapapua.com

Tingkat Penderita HIV/AIDS dan Ancaman Kepunahan OAP


Senyum Manis Anak Generasi Penerus Papua Rindu Uluran Tangan, senyuman dibalik derita (Foto:Ist)
Neg.com,- Dalam kunjungan Dainius Pūras menyambangi Papua pada Jumat terakhir Maret lalu. Selama kurang lebih 30 jam, ia harus memantau kehidupan warga di sana. Sebagai Pelapor Khusus dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia memang bertugas untuk menilai standar kesehatan fisik dan mental orang-orang Indonesia, termasuk rakyat Papua. Penilaian itu diperlukan untuk mengukur sejauh mana negara hadir menggenapi kewajiban melayani masyarakat terutama di bidang kesehatan—salah satu hak asasi manusia.

Dalam kunjungan singkat itu, Pūras menggarisbawahi sejumlah poin yang menurutnya perlu perbaikan segera di tanah Papua. Di antaranya: kesehatan ibu dan kesehatan anak-anak, seksual dan reproduksi, kesehatan mental, HIV/AIDS dan narkoba. Ia juga mengangkat masalah kekurangan tenaga medis di Papua dalam satu konferensi pers.

"Penting untuk mencari solusi terkait pelayanan kesehatan di Papua, layanan yang diterima dan digunakan oleh masyarakat," ujarnya, dikutip Antara, 31 Maret.

Dari keseluruhan cerita kesehatan di Indonesia, Pūras mengutarakan akan memberi porsi besar pada kasus HIV/AIDS di Papua. Kasus ini akan dimuat dalam laporannya yang dirilis pada 2018 nanti. "Kami juga memberi perhatian terkait penyakit HIV/AIDS yang tingkat prevalensinya semakin tinggi,” katanya.

Keputusan Pūras benar belaka. HIV/AIDS di Papua memang perlu diberi sorotan.

Sejak 2015 hingga 2016, kasus penyakit yang menyerang imunitas tubuh itu terus meningkat. Hingga Juni 2016, Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat 25.349 kasus, dan selang enam bulan kemudian, Desember 2016, ia meningkat menjadi 26.973 kasus.

Parahnya, kondisi ini menyerang lebih banyak orang-orang berusia produktif, dari umur 19 hingga 49 tahun. Rentang usia yang terkena HIV-AIDS: 589 kasus menyerang usia  1 hingga 14 tahun, 3.007 kasus pada usia 15 hingga 19 tahun, dan 21.811 kasus pada usia 20-49 tahun.

Angka-angka ini jadi salah satu perkara yang disorot Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, sebuah gereja yang memantau kasus pelanggaran HAM di Papua. Dalam laporan Papua di Ambang Kehancuran, yang diluncurkan di Jakarta pada 11 April lalu, Gereja Fransiskan Papua menuntut pemerintah untuk tanggap menyelesaikan kasus HIV/AIDS di Papua. Angka 2,3 persen kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada masyarakat Papua dianggap sudah terlalu tinggi dan mengancam eksistensi penduduk asli Papua.

“Kesehatan mereka adalah tanggung jawab negara, dan peningkatan jumlah HIV/AIDS ini adalah bukti pemerintah abai,” ujar Basilius Triharyanto, salah satu penulis laporan.

Menurutnya, jumlah tersebut bisa disiasati jika pemerintah tanggap dan menyediakan layanan kesehatan yang memadai di sana. “HIV/AIDS hari ini bukan lagi penyakit yang tak bisa disiasati. Ada obat yang bisa membuat orang-orang dengan HIV/AIDS lebih sehat dan lebih produktif,” tambahnya.

Triharyanto benar. Salah satu penanganan paling mutakhir terhadap penderita HIV adalah terapi ARV alias antiretroviral therapy, biasa disingkat jadi ART. Ia adalah serangkaian pengobatan yang akan mengontrol jumlah virus HIV dalam tubuh. Terapi ini bisa membuat seorang HIV Positif tidak bisa menularkan virus pada orang lain, dan hidup produktif seperti orang sehat pada umumnya

Harganya memang tidak murah. Namun, demi menunaikan janji melindungi segenap bangsa Indonesia, pemerintah harusnya punya siasat tentang hal itu.

 Di London, Oktober lalu, bahkan seorang dengan HIV yang tak ingin disebutkan namanya didiagnosis sembuh total, meski masih perlu dipantau di laboratorium, setelah menjalani pengobatan HIV/AIDS termuktahir. Ini membuktikan kalau dunia medis hari ini sudah lebih ramah pada orang dengan HIV/AIDS.

Tapi, orang-orang Papua masih belum merasakannya. Terutama 2,3 persen dari mereka yang terang-terang sudah terpapar HIV/AIDS. Hidup mereka di ujung maut.

Pada 2007, sebenarnya pemerintah telah membentuk Komisi Penanggulangan AIDS di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Papua. Tapi, menurut Triharyanto, hasil kerja mereka tak signifikan sama sekali. Terbukti dari jumlah kasus yang terus bertambah. Padahal, kasus-kasus HIV/AIDS ini sudah ditemukan hampir di seluruh daerah di Papua.

“Harusnya sudah tidak bisa dibiarkan lagi dan segera ditangani. Karena bisa-bisa orang Papua—terutama penduduk asli Papua—punah,” kata Veronica Koman, pengacara HAM dan aktivis Papua Itu Kita, yang turut bertemu Pelapor Khusus PBB Dainius Pūras selama kunjungannya ke Indonesia.

Ancaman Kepunahan Orang Papua

Studi terbaru Dr. Jim Elmslie, akademisi University of Sydney, dalam The Asia-Pasific Journal, menyebut jumlah penduduk asli Papua sudah menjadi minoritas pada 2017. Ia bahkan memprediksi, dalam dekade berikutnya setelah sensus terakhir (2010), angkanya akan turun dalam kisaran 15 sampai 20 persen.

Ramalan itu dibikinnya dari analisis jumlah penduduk asli Papua yang memang terus menurun dengan mengombinasikan kedatangan migran orang non-Papua dan isu lain termasuk layanan kesehatan tak layak di sana sejak 1970-an. Pada 1963, jumlah penduduk asli Papua masih 100 persen. Namun, dalam sensus 1971, jumlah penduduk asli Papua menjadi 96 persen (923 ribu), sementara jumlah orang non-Papua sebesar 4 persen (36 ribu).

Konfigurasi yang berubah itu lantaran program transmigrasi negara pemerintahan Soeharto yang mengirim orang-orang di wilayah padat penduduk ke wilayah yang masih jarang penduduk. Belakangan, ia tak cuma diubah oleh transmigrasi, melainkan para migran ekonomi yang mencari peruntungan ke Papua. Mereka termasuk orang Makassar, Bugis, Maluku, selain Jawa dan sebagainya. Kondisi ini ditambah dan diperparah lewat kekerasan negara dan gelombang korporasi di wilaya yang paling tertutup dari akses peliputan media maupun pemantauan kejahatan kemanusiaan.

Itu secara gradual menurunkan jumlah orang asli Papua. Persentasenya terus merosot.

Pada sensus 2010, jumlah penduduk asli Papua sekitar 73,57 persen (2.121.436 jiwa), sementara jumlah pendatang 22,84 persen (658.708 jiwa). Angka ini yang kemudian dipakai Elmslie untuk memperingatkan pemerintah Indonesia kalau salah satu etnis di negaranya terancam punah. Elmslie menyebutnya sebagai "slow-motion genocide."

“Kalau pemerintah terus-terusan mengabaikan laporan-laporan semacam ini, dan tidak segera mengambil kebijakan, ya bisa dibilang ini upaya mereka memusnakan etnis Papua,” ujar Veronica Koman. (Admin)


Sumber:https://tirto.id

Tahun 1974 Persipura Pernah “Dipaksa” Mengalah Mewakili Indonesia

Pada semifinal  9 November 1974, Persipura mengalahkan timnas Taiwan 2-0. Di laga final, Persipura melawan tuan rumah timnas Vietnam Selatan.
Di tengah peperangan, Vietnam menggelar Quoc Khanh Cup atau Vietnam National Day Tournament, kompetisi invitasi yang bergulir sejak 1961 sampai 1974. Kompetisi yang selalu digelar di Saigon ini tidak diadakan pada 1963, 1964, 1968, dan 1969.

Tim nasional Indonesia berpartisipasi pada 1961, 1962 (runner up), dan 1970. Pada kompetisi tahun 1973, Indonesia diwakili oleh Persija Jakarta yang pulang membawa trofi setelah mengalahkan Malaysia 3-2.

Pada kompetisi terakhir tahun 1974, Indonesia diwakili oleh Persipura Jayapura. Rombongan tim dipimpin oleh Gubernur Irian Jaya Brigjen TNI (Purn.) Acub Zainal. Untuk biayanya, dia meminjam sebesar Rp.30 juta dari uang tanah ulayat masyarakat adat Suku Wadi, Bano, Merabano, Nasadit dan Sem.

Acub memberangkatkan Persipura tanpa restu Menteri Dalam Negeri Amirmahmud. Persipura transit di Singapura sebelum ke Saigon untuk mengikuti turnamen yang digelar pada 1-10 November 1974.

“Saya nekat dan ngawur. Waktu saya memimpin Irian, bola adalah alat untuk kebanggaan Irian. Suatu saat kita mau bawa ke Bangkok, saya minta izin pada Pak Menteri Amir Machmud. Jawabannya: ‘Ada apa nih, si Acub? Masak gubernur bawa (tim) bola ke Bangkok?’” kenang Acub dalam biografinya, Acub Zainal: I Love the Army.

“Buat saya ini pertama kali membawa nama bangsa. Zonder (tanpa) izin dari Yang Mulia Menteri, saya berangkat. Saya berhenti dulu di Singapura satu malam, menyesuaikan diri,” imbuh Acub.

Di Singapura, Acub bertemu dengan Jenderal TNI Surono Reksodimedjo, wakil panglima ABRI. Surono meminta kepada Acub agar Persipura mengalah. Bukan untuk uang melainkan atas nama solidaritas sesama bangsa Asia Tenggara yang tengah dilanda perang.

“Keadaan Vietnam sedang gawat. Pak Soerono minta kalau bisa kesebelasan yang saya bawa jangan sampai menang. Berikan kesempatan pada mereka (Vietnam) untuk bergembira. Saya dapat perintah begitu,” ungkap Acub.

Kesebelasan Persipura berkunjung ke Istana Negara 22 Maret 1973 sebelum bertanding melawan Klubb Hitachi dari Jepang pada 23 Maret 1973. Pada pertandingan melawan Hitachi tim Persipura kalah 2-1. (Ist/Dok.PB)
Kesebelasan Persipura berkunjung ke Istana Negara 22 Maret 1973 sebelum bertanding melawan Klubb Hitachi dari Jepang pada 23 Maret 1973. Pada pertandingan melawan Hitachi tim Persipura kalah 2-1. (Ist/Dok.PB)
Persipura datang dengan tim terbaik asuhan pelatih asal Singapura, Choi Song On, dengan kiper Suharsoyo yang diboyong dari Persema Malang. Persipura tak pernah kalah di babak penyisihan grup. Menang 3-1 melawan timnas Khmer (kini Kamboja) dan imbang 1-1 melawan timnas Thailand. Persipura jadi juara Grup B.

Di semifinal pada 9 November 1974, Persipura mengalahkan timnas Taiwan 2-0. Di laga final, Persipura melawan tuan rumah timnas Vietnam Selatan pada 10 November. Acub teringat permintaan Surono agar tidak juara.

“Di final akhirnya saya kalahkan. Kita cuma jadi juara dua, bukan juara pertama,” tandas mantan Panglima Kodam Cendrawasih Irian Jaya itu.

Persipura harus rela menjadi runner up setelah kalah 0-2 dari Vietnam Selatan. Persipura urung menyamai Persija Jakarta yang menjuarai turnamen itu setahun sebelumnya. Inilah harga dari solidaritas antarbangsa Asia Tenggara.

Sumber: Historia.ID

Surat dari Gerakan Wanita Kurdi kepada Juru Bicara Dewan Pemerintahan Pribumi

Gambar.Tentara Perempuan Negara Kurdistan

Pertama-tama, kami ingin menyampaikan penghormatan dan salam revolusioner kami kepada saudara perempuan Meksiko kami, dari pegunungan Kurdistan sampai ke pegunungan Sierra Madre di luar samudra. Meskipun sungai, gunung, padang pasir, lembah, ngarai dan lautan yang memisahkan kita, kita adalah saudara dan saudari pribumi, tidak peduli bagian mana dari dunia kita.
Dengan Anda, kita berbagi perjuangan kita, perlawanan kita terhadap pendudukan dan kolonialisme, dan impian kita akan kehidupan yang bebas, dan dalam pengertian ini, kita yang termasuk dalam Gerakan Pembebasan Kurdi menyatakan bahwa kita mempertimbangkan perjuangan untuk penentuan nasib sendiri, swadana Dan pembelaan diri masyarakat adat Meksiko yang diselenggarakan dalam Kongres Penduduk Adat Nasional (CNI) sebagai perjuangan kita sendiri, dan kami mendukung Anda berdasarkan prinsip solidaritas revolusioner.
Masyarakat adat adalah vena yang melaluinya nilai sosial dan budaya kemanusiaan yang paling penting ditransmisikan, sejak saat pertama sosialisasi sampai zaman kita. Tanpa diragukan lagi, tidak ada orang yang lebih unggul dari yang lain, namun pada saat modernitas kapitalis mencoba menghancurkan setiap nilai komunal, masyarakat adat adalah pengaman dari struktur sosial seluruh umat manusia. Ribuan tahun kenangan kolektif muncul kembali dalam nyanyian, ritual, doa, tato, tarian dan tradisi kami. Jadi perjuangan untuk identitas kita sendiri melawan usaha modernitas kapitalis untuk menghapus akar dan kenangan akan bangsa kita menjadi bentuk perlawanan yang paling berarti.

Di Amerika Latin, seperti di Kurdistan, wanita memimpin perlawanan ini. Di negara kita, yang merupakan buaian selama ribuan tahun budaya dewi ibu, kita melihat bahwa wanita dan kehidupan, wanita dan kebebasan, wanita dan tanah, dan wanita dan alam saling terkait erat. Di Kurdistan, kami mengekspresikan kenyataan ini dalam slogan "Jin Jiyan Azadî", yang berarti "Perempuan Kebebasan Berumur".

Tubuh dan jiwa wanita adalah cerminan alam semesta di darat. Ribuan tahun yang lalu, selama Revolusi Neolitik, para wanita, melalui organisasi sosial mereka, yang memimpin dalam membuat perubahan yang memungkinkan pengultakan tanah dan awal kehidupan yang tidak berjalan selaras dengan alam. Itulah sebabnya perempuan adalah orang pertama yang diperbudak oleh peradaban negara bagian patriarki, yang muncul sebagai sebuah kontrarevolusi berdasarkan dominasi, eksploitasi dan pendudukan.

Sejalan dengan dominasi wanita adalah dominasi alam yang semakin cepat. Melalui penindasan bentuk alam pertama, yang kedua muncul, mengubah keduanya menjadi penjepit sehingga modernitas kapitalis digunakan secara paksa untuk memberikan tekanan terhadap masyarakat historis, dengan kemampuan yang lebih besar untuk menghancurkannya. Akibatnya, resistensi yang sah yang timbul dalam mengejar pemerintahan sendiri, penentuan nasib sendiri dan pembelaan diri merupakan perjuangan terbesar untuk kebebasan.

Kami di Kurdistan, yang tercerahkan oleh perjuangan masyarakat adat Amerika Latin, telah mengembangkan pertahanan kita sendiri melawan kekuatan kapitalis modernis dan serangan dari negara-negara kolonialis yang menempati tanah kita. Kami ingin Anda tahu bahwa kami terus-menerus menerima inspirasi khusus dari pengalaman Anda tentang pemerintahan sendiri, pemerintahan yang baik dan komunalisme. Kami berharap bahwa pengalaman dan terobosan kami dalam perjuangan juga akan menjadi sumber inspirasi bagi Anda.

Salah satu pencapaian terbesar dalam gerakan kita adalah partisipasi dan representasi wanita yang setara. Ini adalah hasil dari pengorbanan hebat yang dibuat dan perjuangan keras yang dilakukan oleh wanita, dan akhirnya kami memenangkan partisipasi yang sama dalam membuat semua keputusan. Bukan sebagai individu, tapi sebagai perwakilan dari kehendak kolektif dari Gerakan Pembebasan Wanita Kurdi. Inilah cara kita mengambil tempat di setiap aspek perjuangan. Dengan sistem co-presidensi kita, yang terbentuk dari bawah ke atas, kita mewakili kehendak perempuan dalam setiap keputusan dan mengembangkan jenis politik demokratis yang bertentangan dengan semua bentuk politik tradisional dan patriarki. Tapi untuk bisa melakukan ini, perlu bagi kita untuk menjadi kekuatan terorganisir untuk selamanya. Menjadi terorganisir adalah persyaratan terpenting untuk memenangkan kemenangan.

Dalam hal ini, organisasi adalah lengan kita yang paling penting untuk membela diri. Di masa lalu, banyak orang dan gerakan belum dapat mencapai hasil yang diharapkan karena mereka tidak diatur dengan baik. Tidak mungkin mengubah beberapa momen bersejarah menjadi kemenangan besar justru karena kurangnya organisasi. Kita mungkin belum mencapai pemahaman mendalam tentang makna dan pentingnya fakta ini, tapi sekarang kita berada dalam tahap perjuangan yang lain. Kami berkewajiban melipatgandakan usaha kami untuk meningkatkan tingkat organisasi agar dapat memanfaatkan kesempatan baru ini untuk menang - pada saat sistem kapitalis modernis mengalami krisis lain dalam aspek yang paling menentukan. Sejarah menuntut kita.

Kami, Gerakan Pembebasan Wanita Kurdi ingin menyampaikan dukungan kami atas keputusan Anda, berdasarkan keyakinan bahwa tujuan ini akan tercapai dan dibawa ke tingkat yang jauh lebih tinggi, dimulai dengan pemilihan dan strategi yang dikembangkan di sekitar mereka. Pemimpin kami Abdullah Öcalan, yang telah dipenjarakan di bawah kondisi terisolasi yang paling keras dari negara penjajah Turki sejak tahun 1999, membuat analisis yang sangat penting mengenai hal ini pada akhir abad ke-20. Pemimpin kami Apo, meramalkan bahwa abad kedua puluh satu akan menjadi abad pembebasan perempuan jika kita mampu tumbuh dan memutuskan perilaku dan mekanisme organisasi kita. Alasan untuk kesimpulan ini adalah krisis struktural yang nyata dari sistem patriarki, yang didasarkan pada perbudakan kita.

Sistem patriarki berusaha mengatasi krisis ini dengan meningkatkan tingkat serangan terhadap perempuan ke tingkat perang sistematis. Dengan memusatkan serangannya terhadap wanita di seluruh dunia melalui berbagai cara dan metode yang berbeda, sistem ini bertujuan untuk memotong jalan menuju pembebasan yang telah kita ambil. Pembunuhan terhadap wanita yang telah mencapai tingkat genosida di negara Anda, dan pembunuhan para pemimpin wanita di Amerika Latin adalah indikator paling konkret dari kenyataan ini. Kami ingin Anda tahu bahwa kami menganggap semua wanita dan pemimpin masyarakat adat yang telah terbunuh oleh lengan operasi sistem yang dominan sebagai martir kami sendiri. Kami juga berjuang untuk mewujudkan harapan dan impian kita. Martir kita tidak pernah mati Kami menarik kekuatan dari mereka, dan mereka terlahir kembali dalam setiap perjuangan yang kita lakukan. 

Dalam konteks ini, keputusan Anda sebagai orang asli Meksiko untuk memberi nama seorang kawan wanita sebagai perwakilan kehendak Anda dan menjadikannya kandidat Anda dalam pemilihan presiden yang akan datang sangat penting. Sebenarnya, Kamerad Marichuy bukan hanya suara masyarakat adat Meksiko, tapi pada saat bersamaan, suara para wanita dunia. Kami ingin mengatakan bahwa kami menegaskan pentingnya dan nilai dari pencalonannya sebagai wakil masyarakat yang ditolak, wanita diperbudak dan ribuan tahun kebijaksanaan leluhur terancam hilang oleh modernitas kapitalis.

Sebagai Gerakan Pembebasan Wanita Kurdi, kami menyatakan dukungan dan solidaritas kami dengan masyarakat adat dan Kongres Adat Nasional, tidak hanya pada saat persidangan pemilihan ini, namun juga dalam keseluruhan perjuangan yang sedang Anda jalani. Kita tahu bahwa hasil pemilihan sendiri tidak masalah, bahwa itu hanyalah salah satu jalan yang ditempuh masyarakat adat Meksiko dalam proses ini pada saat perjuangan ini. Dalam terang ini, kemenangan sudah menjadi fakta karena sistem kapitalis modern memberi umpan keluar dari pembagian kekuatan dan disorganisasi masyarakat dan masyarakat yang didominasinya, namun Anda telah membangun medan sukses dengan menempa kesatuan yang terorganisir.

Dari sini, penting untuk tidak melupakan tujuan ini, yang tidak lain adalah organisasi yang lebih kuat. Kemenanganmu akan menjadi kemenangan kami. Perjuangan kita adalah perjuanganmu. Kami adalah saudara laki-laki dan perempuan dari pegunungan yang telah bangkit dari perairan dalam yang sama. Bahkan dalam bahasa yang berbeda, kita memiliki mimpi yang sama, kita jatuh cinta pada utopia yang sama, dan kita menolak demi cinta yang sama. Dari sini, kami mengirimkan semua kekuatan yang diperlukan di panggung baru ini, kami menyambut Anda dengan perasaan revolusioner kami yang paling tulus, dan kami merangkul Anda dengan semua solidaritas dan persahabatan kami. 

Hidupkan persaudaraan rakyat!
Internasionalisme revolusioner yang hidup lama !
Wanita, Hidup, Kebebasan ! Jin Jiyan Azadi


Kelompok Koordinasi Gerakan Wanita Kurdi, Komalên Jinên Kurdistan (KJK) 7 Juni 2017

Sejarah Revolusi Kuba




Gambaran Umum Kuba Dari Masa Kemerdekaan Hingga Masa Pecahnya Revolusi.

Kuba memperoleh kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 1902. Kemerdekaan Kuba diperoleh setelah mampu mengalahkan penjajahan Spanyol. Kemenangan Kuba mengusir Spanyol didapat setelah adanya bantuan dari Amerika Serikat. Walaupun sudah merdeka, tapi Kuba tidak memiliki kebebasan mengatur negaranya sendiri. Hal ini disebabkan oleh pihak Amerika Serikat yang memberikan syarat kepada Kuba bahwa Amandemen Platt harus dimasukkan ke dalam konstitusi sebagai balas jasa karena membantu mengalahkan Spanyol. Akibatnya, Amerika Serikat dengan leluasa dapat melakukan intervensi terhadap Kuba. 
Amandemen Platt adalah syarat-syarat yang diberikan Amerika Serikat terhadap Kuba. Syarat tersebut antara lain, Pemerintah Kuba sepakat memberikan hak kepada Amerika Serikat untuk melakukan intervensi dengan tujuan melindungi kemerdekaan Kuba dan menciptakan pemerintahan yang layak untuk melindungi kehidupan, hak milik dan kebebasan tiap individu.

Pada tanggal 20 Mei 1902, Tomas Estrada Palma diangkat sebagai presiden pertama Kuba dan penguasa militer Amerika serikat menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepadanya. Pada saat pemerintahan Tomas Estrada Palma, pemerintahan Kuba mengalami kemajuan. Program untuk memperbanyak jumlah guru dibandingkan dengan tentara memberikan dampak positif terhadap kemajuan Kuba. 

Terpilihnya kembali Tomas Estrada Palma sebagai Presiden Kuba pada tahun 1906, memicu pergolakan rakyat Kuba. Pergolakan ini berlangsung selama tiga tahun. Pemerintahan Tomas Estrada Palma dilengserkan dan digantikan oleh presiden yang baru, Miguel Gomez, pada tahun 1909. 

Hingga tahun 1933 siklus pemerintahan Kuba tidak berubah. Pemimpin yang berkuasa bertindak tidak sesuai aturan dan digantikan dengan pemerintahan yang baru. Begitu juga dengan presiden Fulqencio Batista yang menjalankan pemerintahan Kuba secara diktator. Pada masa pemerintahannya banyak terjadi tindakan korupsi. Oknum polisi juga melakukan tindakan korupsi dengan menerima suap dari perjudian ilegal, narkoba dan pelacuran. Selain itu, kebijakan Fulgencio Batista untuk membuka perjudian kasino di Kuba mengundang mafia Amerika Serikat datang ke Kuba. Akibatnya kondisi rakyat menjadi semakin terpuruk. 

Fidel Castro adalah orang Kuba tergerak semangatnya untuk menghentikan rezim Fulgencio Batista. Pada tahun 1953 Fidel Castro mencoba melakukan upaya kudeta, tetapi gagal. Kegagalan itu berakibat pada di hukumnya  Fidel Castro selama 15 tahun. Setelah dipenjara selama dua tahun, Fidel Castro mendapat amnesti umum. Pada tanggal 15 Mei 1955 Fidel Castro dibebaskan.

Penjara tidak menjadikan Fidel Castro menyerah berjuang untuk rakyat Kuba. Setelah keluar dari penjara, Fidel Castro kembali menghimpun kekuatan di Meksiko. Ketika di Meksiko, Fidel Castro bertemu dengan Che Guevara. Mereka berdua sering berdiskusi untuk membicarakan masalah imperialisme Amerika Serikat. 

Fidel Castro dan Che Guevara memilik pemikiran yang sama. Mereka menentang penindasan, terutama dengan kebijakan Fulgencio Batista yang menyengsarakan rakyat Kuba. Che Guevara memutuskan untuk bergabung dengan Gerakan 26 Juli pada tahun 1956.

Kelahiran sebuah Revolusi secara umum karena adanya keterpurukan dalam segala bidang. Keadaan tersebut memicu munculnya gerakan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Revolusi merupakan peralihan kekuasaan dengan atau tanpa kekerasan. Umumnya, revolusi bersifat menyebar, penuh paksaan dan sering kali melanggar hukum yang berlaku. Maka dapat dikatakan bahwa, revolusi merupakan sebuah pilihan politik paling ekstrem yang dilakukan oleh kelompok yang berselisih. 

Apa Latar Belakang Revolusi Kuba?

Ada beberapa Faktor yang melatar belakangi pecahnya Revolusi Kuba: 
A. Faktor Internal.
  • Adanya kesewenangan Pemerintahan Fulgencio Batista di Kuba yang menyengsarakan rakyat.
Presiden Fulqencio Batista menjalankan pemerintahan Kuba secara diktator. Pada masa pemerintahannya banyak terjadi tindakan korupsi. Oknum polisi juga melakukan tindakan korupsi dengan menerima suap dari perjudian ilegal, narkoba dan pelacuran. 

Kebijakan Fulgencio Batista membuat rakyat Kuba tidak senang terhadap dirinya. Kondisi tersebut terjadi karena adanya tindak korupsi, penindasan dan kebebasan yang sangat dibatasi serta adanya diskriminasi rasial yang selalu merugikan pihak orang berkulit hitam.

Selain itu, kebijakan  Fulgencio Batista untuk membuka perjudian kasino di Kuba mengundang mafia Amerika Serikat datang ke Kuba. Akibatnya kondisi rakyat menjadi semakin terpuruk. 

B. Faktor dari luar:  
1)  Adanya Intervensi dari Amerika Serikat. 

Intervensi bermula ketika tahun 1902 Amerika Serikat membantu Kuba dalam memperoleh kemerdekaan dari tangan Spanyol.  Atas bantuannya, Amerika Serikat memberikan syarat kepada Kuba untuk memasukkan Amandemen Platt ke dalam konstitusinya. Amandemen Platt menjadikan Kuba sebagai negara jajahan Amerika Serikat. Pemerintahan Kuba tidak dapat lepas dari intervensi Amerika Serikat dalam membuat kebijakan.

Berdasarkan Amandemen Platt, Pemerintah Amerika Serikat berhak untuk ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan Kuba dengan mengatasnamakan melindungi kehidupan, hak milik dan kebebasan tiap individu. 

Pemerintah Kuba tidak dapat membuat perjanjian tanpa persetujuan dari Amerika Serikat. Begitu pula sebaliknya, pemerintahan Kuba tidak dapat membatalkan perjanjian tanpa persetujuan Amerika Serikat. Selain itu, Pemerintah Amerika Serikat mendapatkan wilayah untuk membangun pangkalan angkatan laut karena dianggap diperlukan untuk keamanan. 

2)  Peristiwa Politik Negara Sekitar Kuba. 
Revolusi Kuba juga didorong oleh peristiwa yang terjadi pada negara sekitarnya  yaitu:   

1. Peristiwa penggulingan Jacobo Arbenz  (Presiden Guatemala yang baru saja menang pemilihan umum)

Peristiwa ini bermula ketika Presiden Jacobo Arbenz melakukan Reformasi Agraria pada tanggal 17 Juni 1952. Pemerintahan Jacobo Arbenz mengambil tanah milik United Fruit Company sebanyak 4.000 hektar untuk dibagikan kepada rakyat Guatemala. 

Menteri Luar Negeri Guatemala, John Foster Dulles, menentang Reformasi Agraria ini. Alasannya adalah kebijakan Presiden Jacobo Arbenz ini terlalu berat untuk ditanggung. Hal ini disebabkan karena dirinya juga merupakan pemegang saham dan pengacara United Fruit Company. John Foster Dulles kemudian menyusun langkah untuk menggulingkan pemerintahan Jacobo Arbenz. 

Pada bulan Maret 1954, John Foster Dulles menuduh pemerintahan Jacobo Arbenz sebagai rezim komunis. John Foster Dulles dengan bantuan Central Intelligence Agency (CIA) menyiapkan pasukan tentara bayaran. CIA mengutus Carlos Castillo Armas untuk memimpin 700 orang tentara bayaran menyerang Guatemala. Presiden Jacobo Arbenz yang mengetahui tindakan John Foster Dulles segera mempersiapkan perlawanan. 

Presiden Jacobo Arbenz menggerakkan tentara negara untuk melawan tentara bayaran yang didalangi John Foster Dulles. Walaupun berhasil mengalahkan tentara bayaran tersebut, keputusan Presiden Jacobo Arbenz menjadikan dirinya kehilangan dukungan dari rakyat karena tidak dilibatkan secara langsung dalam membela tanah airnya. Akibat tekanan yang terlalu berat, Presiden Jacobo Arbenz mengundurkan diri dan digantikan oleh Carlos Castillo Armas sebagai Presiden Guatemala. Akibatnya, pemerintahan Guatemala kembali dikuasai Imperialis Amerika Serikat dan pemilik tanah.

2. Reformasi Agraria di Meksiko pada tahun 1917. 

Revolusi Meksiko pertama kali terjadi pada tahun 1910 untuk menggulingkan pemerintahan Jendral Porfirio Diaz yang diktator. 

Dalam sejarah revolusi, biasanya Peristiwa-peristiwa Revolusi/ peristiwa besar  ditempat lain akan  memberikan dorongan atau ilham kepada suatu negara yang terpuruk untuk melakukan sebuah perubahan. Dua peristiwa besar di atas nampaknya juga telah  memberikan dorongan kepada para pejuang revolusi untuk menindak kesewenang-wenangan Amerika Serikat dan Kediktatoran Fulgencio Batista untuk menuju perubahan Kuba ke arah yang lebih baik. 

Proses berlangsungnya Revolusi Kuba.

Revolusi Kuba kembali dimulai pada bulan Juli 1955, ketika Che Guevara bertemu dengan Fidel Castro di sebuah apartemen kecil di Calle Emparan. Pada pertemuan tersebut terjadi diskusi pemikiran antara Fidel Castro dengan Che Guevara yang melahirkan semangat baru untuk melakukan revolusi.  Fidel Castro melihat kecerdasan Che Guevara akan berguna untuk misi revolusinya di Kuba. Fidel Castro mengajak Che Guevara untuk bergabung dengan kelompoknya yang bernama Gerakan 26 Juli. Tanpa berpikir lama Che Guevara setuju bergabung dengan Gerakan 26 Juli sebagai tenaga medis.

Che Guevara sadar bahwa imperialisme Amerika Serikat adalah musuh utama rakyat Amerika Latin yang harus dilawan dengan senjata. Intervensi Amerika Serikat dalam pemerintahan Guatemala menjadikan Che Guevara semakin membenci Amerika Serikat. Kebencian serupa juga dirasakan Fidel Castro yang tengah memperjuangkan revolusi bagi Kuba. Berdasarkan pemikiran yang sama ini kedua revolusioner bersatu untuk menghentikan imperialisme Amerika Serikat dari Kuba. 

Che Guevara rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan jiwa dan raganya untuk Kuba yang bukan merupakan tanah airnya. Ketertarikan Che Guevara dalam Revolusi Kuba didukung oleh jiwa revolusioner yang sedang berkembang di dalam dirinya.  Che Guevara bergabung dengan Gerakan 26 Juli karena panggilan hatinya untuk revolusi.  Keinginan Che Guevara ini dilatarbelakangi oleh peristiwa agresi militer di Guatemala yang sangat pahit. Che Guevara memutuskan bergabung dengan Gerakan 26 Juli dalam hitungan menit atau bisa dikatakan tanpa berpikir lama-lama. 

Langkah pertama Fidel Castro adalah mendirikan Camp pelatihan Gerakan 26 Juli di pegunungan Chalco,  Meksiko.  Fidel Castro selanjutnya meminta Alberto Bayo untuk melatih Gerakan 26 Juli mengenai strategi berperang, terutama perang gerilya. 

Alberto Bayo yang merupakan mantan Jenderal Spanyol memiliki banyak pengalaman mengenai perang gerilya. Pengalaman tersebut didapatnya di Maroko pada saat melawan bangsa Arab dan di Spanyol ketika terjadi perang saudara.

Alberto Bayo mengajarkan Gerakan 26 Juli mengenai pengaturan perang gerilya, keahlian menembak, teknik penghancuran dan strategi berperang lainnya. Che Guevara yang merupakan tenaga medis Gerakan 26 Juli juga ikut berlatih untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Tanpa disangka, ternyata Che Guevara cepat belajar dan terlihat lebih menonjol dibandingkan kemampuan anggota Gerakan 26 Juli lainnya. Setelah siap bertempur, Gerakan 26 Juli berangkat menuju Kuba. 

Pada tanggal 25 November 1956, Che Guevara dan Fidel Castro beserta 80 anggota Gerakan 26 Juli berangkat dari pelabuhan Tuxpan,  Meksiko, menuju Kuba dengan menggunakan Kapal Granma. Rute yang dipilih adalah dengan berlayar memutar jauh ke utara Kuba dan berlabuh di daerah yang dekat dengan pedesaan Niquero di Provinsi Oriente. Sehari setelah berlayar, Kapal Granma dihantam badai. Kondisi tersebut semakin buruk karena Gerakan 26 Juli yang tidak biasa berlayar, Alhasil mereka mengalami mabuk laut.

Setelah tujuh hari menempuh perjalaan laut,  Che Guevara berhasil sampai di Kuba pada tanggal 2 Desember 1956. Kapal Granma berlabuh di Pantai Las Coloradas. Kondisi Gerakan 26 Juli sangat memprihatinkan. Perbekalan telah habis, senjata yang tersisa hanya tinggal beberapa senapan, sabuk peluru dan sedikit amunisi yang basah. 

Keadatangan pasukan Gerakan 26 Juli di Pantai Las Colorada telah diketahui oleh tentara Fulgencio Batista yang kemudian melaporkan kedatangan tersebut kepada Fulgencio. Keadaan ini sangat tidak menguntungkan terhadap Gerakan 26 Juli. 

Selama tiga hari Che Guevara berjalan melewati rawa-rawa dengan kondisi lapar. Che Guevara beristirahat di Algeria de Pio Provinsi Niquero untuk memulihkan tenaga. Pada hari berikutnya, Che Guevara melanjutkan perjalanan. Ketika melintasi perkebunan tebu, tanpa diduga pesawat musuh tiba-tiba datang dan terbang rendah menembaki Gerakan 26 Juli. Che Guevara bersama para pengikutnya terlibat dalam pertempuran yang tidak seimbang. Pasukan Fulgencio Batista jauh lebih unggul dari kekuatan pasukan Gerakan 26 Juli. Beruntung pada peristiwa ini Che Guevara dapat menyelamatkan diri. 

Proses revolusi terus berjalan, Gerakan 26 Juli secara disiplin menyerang tentara Fulgencio Batista yang bersenjata lengkap. Pasukan yang terluka segera dilarikan ke rumah sakit darurat, sedangkan pasukan yang gugur segera dimakamkan. Walaupun dalam keadaan yang sulit, Strategi Che Guevara mampu membuat pasukan Fulgencio Batista kalah dan melarikan diri. Adapun peristiwa penting selama revolusi diantaranya adalah
  • Penyerbuan La Plata. 
Penyebuan barak-barak tentara Fulgencio di La Plata yang dimenangkan oleh pihak Gerakan 26 Juli. Kemenangan ini semakin memperkuat Gerakan 26 Juli baik dalam bidang moral maupun dalam bidang persenjataan. Kemenangan didapat dengan cara pertempuran gerilya. 
  • Penyerbuan Pos Pertahanan Fulgencio Di El Uvero.
Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 27 Mei 1957. Kemenangan dapat diraih oleh pihak Gerakan 26 Juli. Che Guevara menggunakan strategi perang gerilya mendadak dan serentak menyerang pos pertahanan El Uvero dan terjadi pertempuran sengit selama tiga jam. Gerakan 26 Juli telah melakukan persiapan yang matang untuk aksi El Uvero sehingga kemenangan mampu didapat.
  • Penyerbuan Sierra Maestra oleh Pasukan Fulgencio.
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 25 Mei 1958. Serangan besar-besaran yang dilakukan Fulgencio ke wilayah pegunungan Sierra Maestra dengan mengerahkan sepuluh ribu tentara untuk melawan 321 orang Gerakan 26 Juli. Berdasar perbandingan jumlah pasukan yang dihadapi, satu orang Gerakan 26 Juli harus melawan tiga puluh tentara Fulgencio Batista. Penyerbuan yang dilancarkan Fulgencio dapat diredam oleh gerakan 26 Juli. Kemenangan gerakan 26 Juli dikarenakan buruknya kemampuan tempur pasukan Fulgencio Batista. 

Pada tanggal 30 Desember 1958, Che Guevara berhasil merebut titik-titik yang berbeda di kota. Komunikasi antara pusat Kota Santa Clara dengan kereta api yang mengangkut senjata total terputus. Dengan menghancurkan rel di persimpangan jalur, Gerakan 26 Juli mampu memaksa kereta api tersebut keluar jalur. Akibatnya, Gerakan 26 Juli dapat melancarkan serangan efektif dan secara cepat dapat menguasai kereta api tersebut. Che Guevara juga berhasil merebut kantor polisi dan merampas semua tank di kantor polisi tersebut.

Pada saat itu, hanya benteng terbesar di Ibukota Kuba, Garnisun Leocio Vidal belum menyerah. Che Guevara menggerakkan Gerakan 26 Juli untuk mengepung Garnisun Leocio Vidal. Che Guevara mengirim Kapten Nunez Jiminez dan Rodriquez de la Vega sebagai perwakilan Gerakan 26 Juli untuk bernegosiasi penyerahan benteng. 

Akhir Jalannya Revolusi Kuba. 

Fulgencio Batista telah melarikan diri ke Republik Dominika. Pelarian ini merupakan tanda bahwa rezim Fulgencio Batista telah berakhir di Kuba. Kemudian Che Guevara memasuki Ibukota Havana pada tanggal 1 Januari 1959. Setelah Ibu Kota berhasil direbut, kemudian Fidel Castro mengumumkan kemenangan revolusi di hadapan ribuan massa. Maka sejak saat itu tanggal 1 Januari ditetapkan sebagai Hari Revolusi Negara Kuba.
Revolusi Kuba berlangsung dari tanggal 26 Juli 1953 – 1 Januari 1959
atau berlangsung selama 5 tahun, 5 bulan dan 6 hari.

PETA NEGARA KUBA
Gambar Peta Negara Kuba, peta kuba, peta wilayah negara kuba
 sumber: berkas wikipedia
 Keterangan:
  1. Pinar del Río
  2. Artemisa
  3. La Habana (Kota Havana )
  4. Mayabeque
  5. Matanzas
  6. Cienfuegos
  7. Villa Clara
  8. Sancti Spíritus
  1. Ciego de Ávila
  2. Camagüey
  3. Las Tunas
  4. Granma
  5. Holguín
  6. Santiago de Cuba
  7. Guantánamo
  8. Isla de la Juventud (Pulau Pemuda)
Demikian gambaran singkat mengenai Kronologi Sejarah Terjadinya Revolusi Kuba. Sekian. 

Ratusan Pemimpin Aborigin Bertemu Rumuskan Referendum

Hasil gambar untuk aborigin
Seorang pria Aborigin sedang memainkan didgeridoo di Circular Quay, Sydney (Foto: BBC)
ULURU, Neg - Ratusan pemimpin Aborigin Australia berkumpul di Uluru, Australia tengah, kemarin (24/05)  untuk sebuah pertemuan bersejarah merumuskan langkah-langkah agar keberadaan mereka diakui secara resmi dalam konstitusi.
Pertemuan selama tiga hari itu bertepatan dengan ulang tahun ke-50 referendum pada 1967 yang memperbolehkan suku asli Australia dimasukkan dalam perhitungan sensus.
Sebagai catatan, Australia sampai saat ini tidak menyebut rakyat Aborigin dalam konstitusi mereka.
Pertemuan ini akan merundingkan konsensus untuk mendapatkan metode terbaik bagi pengakuan eksistensi Aborigin.
Lebih dari 200 delegasi dari kelompok-kelompok pribumi hadir pada Konferensi Nasional Pertama itu, yang akan merumuskan dasar-dasar bagi laporan yang akan disampaikan kepada para pemimpin politik Australia Juni mendatang.
Rekomendasi mereka kemungkinan akan menghasilkan referendum yang akan diikuti oleh seluruh rakyat Australia.
Pertemuan ini adalah lanjutan dari 12 pertemuan para pemimpin pribumi Australia dalam enam bulan terakhir. Diharapkan pertemuan itu akan membicarakan kemungkinan pengakuan terhadap suku asli dimasukkan dalam konstitusi atau dicantumkan secara terpisah.
Penduduk Aborigin di Australia mencapai 2,5 persen dari total 24 juta penduduk.
Baik Perdana Menteri Australia, Malcom Turnbull, maupun pemimpin oposisi, Bill Shorten, menolak dengan hormat menghadiri pertemuan ini, dengan alasan menghindari campur tangan politik.
Namun, Turnbull telah menegaskan dukungannya bagi keharusan diakuinya Aborigin dalam konstitusi Australia.
Berbicara di hadapan parlemen kemarin (24/05) dalam acara peringatan 50 tahun referendum 1967, Turnbull mengakui pengakuan terhadap penduduk asli belum cukup dari pemerintah sejak 50 tahun lalu.
Dia tidak menutup kemungkinan untuk mengamandemen konstitusi Australia.
"Kita sekarang memiliki kesempatan untuk mengambil langkah lainnya dalam perjalanan kita," kata dia.
Referendum terhadap pengakuan Aborigin dalam konstitusi Australia sudah pernah direncanakan dan bahkan diharapkan akan berlangsung hari ini. Tetapi kemudian tertunda.
Dari hasil pertemuan tersebut, diharapkan munciul peta jalan (road map) referendum yang akan diserahkan kepada Turnbull dan Bill Shorten pada bulan Juni.
Sumber :www.satuharapan.com