Tampilkan postingan dengan label Sport. Tampilkan semua postingan
Turnamen JAYAWIJAYA CUP I di Undurkan Awal Bulan Besok
![]() |
| Brosur Turnamen Jayawijaya Cup I di Kota Surabaya |
INFO !
Kepada Yth;
Rekan-rekan Paguyuban/Tim yg Telah Mendaftar/Belum Turnamen JJWJY CUP I
Dengan Hormat,
Berhubungan dengan Turnamen yang Rencana akan di laksanakan pada tanggal 29 hingga 20 besok. Dalam Rangka Natal IKB-PMPJ di Malang. Telah di Undurkan !
Natalis Kogoya, Koordinator Pertandingan JAYAWIJAYA CUP I, mengatakan Dengan Hormat bahwa pertandingan ini kami UNDURKAN awal bulan oktober besok. Tepatnya tanggal 6-8 September 2017. Pertandingan ini kami undurkan dikarenakan, tim-tim yang akan bertanding serba berhalangan dengan kegiatan Kampus dan Organisasi serta Kuota tim yang belum tercapai, sebanyak 32 Tim.
Kami berharap agar rekan-rekan yang sudah mendaftar memahami kendala kami, sehingga dapat memaklumi dan kalo boleh dapat membantu kami. Kami memohon maaf secara khusus kepada Rekan-rekan atau Sdr/I yang telah Mendaftarkan Tim kebanggannya. Namun harus Menunggu.
Mari teman-teman yg belum sempat daftar segera mendaftarkan tim jagoan kalian, karena ini adalah kesempatan untuk mengasah atau mempertajam skill individu maupun Tim kalian untuk tampil di laga yg lebih diatas. "Ingat semua berawal dari kecil". Imbuh, Kogoya
Mohon bantuan rekan-rekan semua untuk bantu sebarkan info kegiatan ini atau mengajak tim-tim yg kalian kenal, agar mendaftar dan pertandingan dapat segera dilangsungkan sesuai rencana. Harap, Panitia Penyelenggara.
Demikian atas Perhatian dan Kerjasamanya, saya atas Nama Panitia Penyelenggara Mengucapkan Terima Kasih Banyak.
#Wasalam
Koordinator
Natalis/Tinus
Info jelas hub di:
1.082399185815 (N)
2.081230469650 (T)
1.082399185815 (N)
2.081230469650 (T)
Segera di Gelar JAYAWIJAYA CUP I di Kota Surabaya
![]() |
| Brosur pertandingan Jayawijaya Cup I di Surabaya |
Pertandingan tersebut akan dilangsungkan bulan berjalan ini tepatnya tgl. 21-24 Sep 2017, di Lap. Kuang-kunang, belakang Stikom, surabaya. Pertandingan ini digelar dalam rangka Seminar dan Natal IKB-PMPJ di Malang bulan desember mendatang.
Kegiatan ini sendiri selain dalam rangka pencarian dana untuk seminar dan natal, juga dimaksudkan agar dapat menjadi momen dimana Mahasiswa/I meningkatkan tali persaudaraa atau jalin silahturami sebagai satu keluarga (Papua) khususnya untuk mahasiswa papua kota studi surabaya dan sekitarnya.
Kompetisi ini sangat baik karena dapat menjadi kesempatan untuk kita umumnya sebagai orang Papua di tanah rantau bersatu dan persolid kebersamaan dan kekompakan kita jadi berharap agar teman-teman Mahasiswa/I papua dapat berpartisipasi. Harap,Nelky
Kemudian juga himbauan bahwa kegiatan ini telah diundurkan tanggal 28-30 dari yang sebelumnya tanggal 21-24, dikarenakan banyaknya kegiatan paguyuban-paguyuban juga mahasiswanya entah di kampus dll. Junjung tinggi Kreatifitas dan Sportifitas !!
#PapuaBrothers,PapuaUnity,TogetherStronger,UnityinDiversity,OnepeopleOnesoul.#
Koyao,Amolonggo,Nare,Acemo,Jefmu,Men,Tabea.FoiMoi,Walak,Nayaklak,Dormom,
Wanyambe,Kinaonak,Wiwao,Amakanie "
Akal Sehat dalam Tiga Kejadian Bersama Boaz
NegNesian.com,- Kita bisa berdebat dalam banyak hal, tapi agaknya kita bisa dengan mudah membuat kesepakatan: Boaz adalah pemain terbaik Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Pencapaiannya tak ada yang menyamai: empat gelar juara Liga Indonesia, satu gelar juara Pekan Olahraga Nasional (2004), tiga kali menjadi top skor Liga Indonesia, menjadi pemain terbaik Liga Indonesia (2013),�sekali menjadi top skor Pekan Olahraga Nasional (PON), belum terhitung capaian-capaian minor seperti tiga kali menjadi runner-up Piala Indonesia, sekali meraih juara Community Shield yang mempertemukan juara Liga dan juara Piala Indonesia (2009).
Tulisan ini dibuat sebagai kado ulang tahun untuk Boaz Solossa yang hari ini, 16 Maret 2015, tepat berusia 29 tahun.
Boaz adalah sedikit pemain Indonesia yang mencuat sejak usia muda tapi tetap berada di puncak prestasi begitu memasuki fase senior. Top skor PON saat ia berusia 18 tahun dilanjutkan dengan prestasi demi prestasi di level senior. Gelar demi gelar terus ia raih seiring merambatnya usia.
Hebatnya lagi, semua capaian itu ia raih setelah mendapatkan cedera patah kaki. Dua kali ia mendapatkan cedera parah. Pertama pada 2005 saat ditekel oleh Baihakki Kaizan di final Piala Tiger 2005 dan pada 2007 dalam laga persiapan menjelang Piala Asia karena tekel pemain Hongkong di laga ujicoba.
Dua cedera itulah, semuanya mendera saat bermain demi dan atas nama Indonesia, seharusnya bisa menjadi gardu pengingat yang sanggup menahan siapa pun untuk berhati-hati memvonis Boaz sebagai "pemain yang tak becus membela merah putih".
Sepakbola Indonesia akrab dengan cerita tentang bakat besar pemain muda ini dan itu atau kesebelasan ini dan itu tapi kemudian merosot dengan cepat. Dari kesebelasan Primavera hingga Beretti yang berlatih di Italia dan terakhir beberapa generasi SAD yang berkompetisi di Uruguay, dari Kurniawan Dwi Julianto hingga Syamsir Alam -- semua tentang kabar pemain muda yang berbakat namun kemudian meredup cepat tanpa sempat menggapai yang tertinggi dalam hal prestasi.
Boaz memang sama seperti yang lain, dari Bepe hingga Bustomi atau Bejo Sugiantoro hingga M. Roby, yang gagal atau belum memberikan prestasi untuk kesebelasan nasional. Boaz masih punya kesempatan memberikan trofi untuk Indonesia. Tapi sebelum trofi benar-benar datang ke Indonesia, ia masihlah bagian dari sebuah -- meminjam istilahnya Bepe-- "generasi yang gagal".
Tapi ia tak gagal bersama kesebelasan yang diperkuatnya, juga dalam hal pencapaian pribadinya. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, capaian pribadi Boaz bersama Persipura merupakan capaian terhebat yang pernah ditorehkan oleh seorang pemain sepakbola di jagat sepakbola Indonesia abad-20.
Jika Kurniawan adalah pemain yang mencuat saat saya masih remaja, Boaz adalah pemain yang namanya moncer saat saya sudah beranjak dewasa. Jika Adjat Sudradjat dan Ribut Waidi adalah ingatan masa kecil saya tentang pemain hebat Indonesia, sementara Kurniawan adalah ingatan masa remaja saya tentang seperti apa profil idaman pemain Indonesia yang layak diidolakan, maka Boaz adalah kesadaran fase dewasa saya tentang bagaimana seorang pemain bola berbakat yang moncer tapi sekaligus terkunci dalam iklim sepakbola yang begitu-begitu saja.
Adjat (pemain penting dari kesebelasan yang saya dukung) dan Ribut Waidi (pemain pertama yang membuat saya ingin mempunyai baju timnas Indonesia dan kemudian terealisasi berkat kebaikan bapak) lebih menyerupai sebuah kultus dalam ingatan saya. Tak banyak yang bisa diotak-atik dari sebuah kultus. Sedangkan Kurniawan mewakili kelabilan seorang remaja yang mudah jatuh hati, kendati hingga kini saya masih mengakui Kurniawan sebagai striker Indonesia paling mematikan yang pernah saya lihat.
Boaz
adalah satu dari sekian pemain yang pernah mengalami tragedi patah kaki
di lapangan. Simak cerita kami tentang pemain-pemain yang mengalami
patah kaki saat sedang bermain, baik pemain internasional (dari Eduardo
hingga Mattielo) maupun pemain lokal (dari Boaz hingga Bima Sakti):
Tentang Kaki-kaki yang Patah Itu.
Tapi Boaz berbeda. Ia muncul saat saya sudah lebih "tenang" menyikapi sepakbola (termasuk sepakbola Indonesia). Saya sudah lebih matang -- tentu karena ada pengaruh faktor usia, saat itu saya sudah di pertengahan usia 20an. Boaz muncul ketika saya sudah tidak terlalu banyak menaruh harapan setinggi bintang kepada sepakbola Indonesia. Dan karena itulah, bagi saya, Boaz mewakili sebuah fase dalam hidup saya ketika akal sehat�sudah mulai menggantikan emosi jiwa yang dulunya berkobar-kobar terhadap Indonesia dan sepakbolanya.
Tentu saja saya sedih tak terkira saat Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan penalti di laga kedua final Piala AFF 2010, kegagalan yang membuat saya sudah membuang jauh-jauh harapan melihat Indonesia meraih trofi Piala AFF bahkan sebelum babak pertama selesai. Tentu saja saya agak mbrebes mili ketika sepakan Ferdinan Sinaga gagal menembus gawang Malaysia yang dijaga Khairul Fahmi di fase adu penalti dalam final Sea Games 2011.
Tapi kesedihan dan mbrebes mili itu bukan karena saya menaruh harapan yang sangat tinggi, melainkan sebentuk harapan yang wajar dibayangkan saat kesebelasan yang kita dukung sudah berada di laga puncak. Di ujung sebuah perjalanan, ketika tanah yang dijanjikan sudah terlihat di pelupuk mata, amat bisa dimengerti jika emosi mendadak agak bergetar dan harapan begitu saja berkibar.
Akal sehat itu pula yang membuat saya tak pernah menaruh harapan yang tinggi dan beban yang berat di pundak Boaz. Akal sehat itu pula yang membuat saya dengan sangat gampang memahami kenapa dan mengapa Boaz beberapa kali bermasalah dengan kesebelasan nasional. Akal sehat pula, tentu diperkaya dengan perspektif politik yang saya pelajari tentang apa yang terjadi di Papua, yang membuat saya bisa dengan mudah mengerti kenapa dan mengapa Boaz seperti bermain lebih penuh hasrat saat memperkuat Persipura -- walau saya juga tahu Boaz selalu all out tiap kali ia memutuskan memenuhi panggilan timnas.
Dan sebagai bagian tak terpisahkan dari akal sehat saya dalam memandang dan menyikapi sepakbola Indonesia, saya dan Boaz terikat oleh sebuah ingatan dan kenangan yang bisa jadi tak mungkin akan saya lupakan. Ingatan dan kenangan itu tertanam dalam tiga peristiwa yang berbeda. Apa saja tiga peristiwa itu?
Tentang Kaki-kaki yang Patah Itu.
Tapi Boaz berbeda. Ia muncul saat saya sudah lebih "tenang" menyikapi sepakbola (termasuk sepakbola Indonesia). Saya sudah lebih matang -- tentu karena ada pengaruh faktor usia, saat itu saya sudah di pertengahan usia 20an. Boaz muncul ketika saya sudah tidak terlalu banyak menaruh harapan setinggi bintang kepada sepakbola Indonesia. Dan karena itulah, bagi saya, Boaz mewakili sebuah fase dalam hidup saya ketika akal sehat�sudah mulai menggantikan emosi jiwa yang dulunya berkobar-kobar terhadap Indonesia dan sepakbolanya.
Tentu saja saya sedih tak terkira saat Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan penalti di laga kedua final Piala AFF 2010, kegagalan yang membuat saya sudah membuang jauh-jauh harapan melihat Indonesia meraih trofi Piala AFF bahkan sebelum babak pertama selesai. Tentu saja saya agak mbrebes mili ketika sepakan Ferdinan Sinaga gagal menembus gawang Malaysia yang dijaga Khairul Fahmi di fase adu penalti dalam final Sea Games 2011.
Tapi kesedihan dan mbrebes mili itu bukan karena saya menaruh harapan yang sangat tinggi, melainkan sebentuk harapan yang wajar dibayangkan saat kesebelasan yang kita dukung sudah berada di laga puncak. Di ujung sebuah perjalanan, ketika tanah yang dijanjikan sudah terlihat di pelupuk mata, amat bisa dimengerti jika emosi mendadak agak bergetar dan harapan begitu saja berkibar.
Akal sehat itu pula yang membuat saya tak pernah menaruh harapan yang tinggi dan beban yang berat di pundak Boaz. Akal sehat itu pula yang membuat saya dengan sangat gampang memahami kenapa dan mengapa Boaz beberapa kali bermasalah dengan kesebelasan nasional. Akal sehat pula, tentu diperkaya dengan perspektif politik yang saya pelajari tentang apa yang terjadi di Papua, yang membuat saya bisa dengan mudah mengerti kenapa dan mengapa Boaz seperti bermain lebih penuh hasrat saat memperkuat Persipura -- walau saya juga tahu Boaz selalu all out tiap kali ia memutuskan memenuhi panggilan timnas.
Dan sebagai bagian tak terpisahkan dari akal sehat saya dalam memandang dan menyikapi sepakbola Indonesia, saya dan Boaz terikat oleh sebuah ingatan dan kenangan yang bisa jadi tak mungkin akan saya lupakan. Ingatan dan kenangan itu tertanam dalam tiga peristiwa yang berbeda. Apa saja tiga peristiwa itu?
Ini merupakan halaman kedua dari esai Akal Sehat dalam Tiga Kejadian Bersama Boaz
Akal sehat dalam debut Boaz bersama Merah Putih
Saya ada di Gelora Bung Karno ketika Boaz melakoni debutnya bersama kesebelasan nasional. 12 Oktober 2004, Boaz turun sejak menit pertama saat Indonesia menjamu Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia 2006.
Entah ide apa yang merasuki Peter Withe, orang Inggris yang saat itu melatih Indonesia, yang memutuskan dengan berani menurunkan Boaz Solossa di kesebelasan nasional senior di laga penting dan jelas tidak mudah (siapa yang akan bilang Arab Saudi sebagai lawan mudah?). Boaz saat itu baru berusia 18 tahun, masih bocah ingusan. Dan lebih dari sekadar bocah ingusan, Boaz saat itu belum punya pengalaman bermain di level senior di tengah kompetisi tertinggi tanah air.
Ya, Boaz saat itu mencuat namanya sebagai pemain terbaik dan top skor Pekan Olahraga Nasional 2004 yang berlangsung di Sumatera Selatan. Boaz bahkan belum memperkuat Persipura. Sekali pun belum pernah. Tepat satu dekade kemudian, Evan Dimas melakukannya lagi: tak pernah tampil di laga resmi dalam kompetisi tertinggi Indonesia bersama kesebelasan senior (Persebaya), hanya latihan dan ujicoba, Evan tampil bersama kesebelasan senior Indonesia di bawah arahan Riedl jelang Piala AFF 2014 yang hasilnya luluh lantak itu.
Barulah setengah tahun setelah debut di GBK itu, tepatnya lima bulan, pada 5 Maret 2005, Boaz baru mencicipi iklim kompetisi tertinggi di tanah air. Hari itu, Boaz diturunkan oleh Persipura di laga pembuka Liga Indonesia musim 2005 kala menghadapi Persegi Gianyar.
Akal sehat dalam debut Boaz bersama Merah Putih
Saya ada di Gelora Bung Karno ketika Boaz melakoni debutnya bersama kesebelasan nasional. 12 Oktober 2004, Boaz turun sejak menit pertama saat Indonesia menjamu Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia 2006.
Entah ide apa yang merasuki Peter Withe, orang Inggris yang saat itu melatih Indonesia, yang memutuskan dengan berani menurunkan Boaz Solossa di kesebelasan nasional senior di laga penting dan jelas tidak mudah (siapa yang akan bilang Arab Saudi sebagai lawan mudah?). Boaz saat itu baru berusia 18 tahun, masih bocah ingusan. Dan lebih dari sekadar bocah ingusan, Boaz saat itu belum punya pengalaman bermain di level senior di tengah kompetisi tertinggi tanah air.
Ya, Boaz saat itu mencuat namanya sebagai pemain terbaik dan top skor Pekan Olahraga Nasional 2004 yang berlangsung di Sumatera Selatan. Boaz bahkan belum memperkuat Persipura. Sekali pun belum pernah. Tepat satu dekade kemudian, Evan Dimas melakukannya lagi: tak pernah tampil di laga resmi dalam kompetisi tertinggi Indonesia bersama kesebelasan senior (Persebaya), hanya latihan dan ujicoba, Evan tampil bersama kesebelasan senior Indonesia di bawah arahan Riedl jelang Piala AFF 2014 yang hasilnya luluh lantak itu.
Barulah setengah tahun setelah debut di GBK itu, tepatnya lima bulan, pada 5 Maret 2005, Boaz baru mencicipi iklim kompetisi tertinggi di tanah air. Hari itu, Boaz diturunkan oleh Persipura di laga pembuka Liga Indonesia musim 2005 kala menghadapi Persegi Gianyar.
Tapi
Boaz memperlihatkan betapa dirinya sudah sangat layak bermain bersama
Ellie Aiboy atau Ponaryo Astaman. Diturunkan untuk beroperasi di sisi
kiri, dalam formasi dasar 4-3-3, Boaz berkali-kali membelah sisi kanan
pertahanan Arab Saudi dengan kecepatan tinggi dan dribling-nya yang
liat. Bahu membahu dengan abangnya, Ortizan Solossa, yang ditempatkan di
posisi fullback kiri, Boaz membuat Arab Saudi tak nyaman meninggalkan
sisi kanan pertahanannya.
Atmosfir di GBK saat itu tidak terlalu ramai. Kalau saya tak salah ingat, suporter yang hadir tidak lebih dari 30% kapasitas stadion. Terhitung sepi, dan menjadi terasa makin sepi karena ukuran GBK yang besar dengan atap-atapnya yang tinggi. Tapi atmosfir stadion terasa menghangat tiap kali Boaz menerima bola di sisi kiri penyerangan.
Awalnya, tak banyak yang mengetahui Boaz. Tentu saja ada beberapa orang yang sudah mendengar nama Boaz karena capaian yang diraihnya di PON 2004 sebulan sebelumnya. Beberapa surat kabat juga memberi porsi yang lumayan saat Boaz dipanggil Withe. Tapi hampir bisa dipastikan hanya sedikit yang pernah benar-benar melihat bagaimana Boaz bermain dan hari itu menjadi hari pertama kami menyaksikan seorang bocah dengan badan yang terlihat agak ringkih sedang mulai menorehkan kalimat pertama dalam buku sejarah sepakbola Indonesia.
Kami tak banyak berharap, tepatnya saya tak banyak berharap, karena apa yang bisa diharapkan saat Indonesia menghadapi Arab Saudi? Lagi pula, Indonesia sudah tertinggal 1-0 di menit 8 karena kecerobohan Ismet Sofyan yang tak bisa mengantisipasi seorang pemain Arab Saudi. Kesuraman bertambah empat menit kemudian, pada menit 12, ketika Arab Saudi memperbesar keunggulan. Kesialan bertambah, jelang turun minum, karena Ismed Sofyan harus keluar lapangan karena diusir wasit menyusul pelanggaran keras.
Apa yang bisa diharapkan saat menghadapi Arab Saudi, tertinggal 0-2, dan mesti bermain 10 orang? Semua orang yang ada di GBK, kendati mungkin ada di antaranya yang menyaksikan keajaiban Man United saat mencetak dua gol di injury time di final Liga Champions 1999 sekali pun, niscaya tak akan banyak berharap.
Tapi justru dalam situasi 10 pemain itulah Boaz memperlihatkan mutunya. Mungkin karena merasa sudah unggul dalam urusan mencetak gol dan jumlah pemain, Arab Saudi bermain lebih berani, sehingga ada banyak ruang-ruang yang menganga di pertahanan Arab. Dan dari situlah Boaz mengobrak-abrik pertahanan Arab Saudi.
Dalam catatan saya, Boaz setidaknya berhasil empat kali melepaskan diri dari kawalan pemain Arab, dan dari situlah ia mengirimkan umpan-umpan silang yang sangat berbahaya. Satu umpan silang yang sangat matang ia buat di akhir babak pertama, namun sayang gagal dimanfaatkan Ilham Djayakesuma. Satu umpan silangnya yang lain, di awal babak kedua, sangat akurat mengarah kepada Ilham dan kali ini dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Gol. 1-2.
Pertandingan seakan baru saja dimulai kembali. Untuk pertama kalinya Arab Saudi�menyadari ada yang "tak beres" dengan sisi kiri penyerangan Indonesia. Dan bagi kami yang ada di tribun penonton, rasanya ada yang berbiak dalam hati tiap kali Ponaryo atau Ortizan mengirimkan umpan panjang ke sisi kiri penyerangan. Rasanya, ada sesuatu yang bisa agak sedikit diharapkan tiap kali bola berhasil dikejar oleh si bocah ingusan asal Papua itu.
Saya masih ingat, ada satu momen di mana Boaz lagi-lagi berhasil mengelabui pemain Arab Saudi, dan kemudian bersicepat dengan lawan hingga ujung lapangan dan kemudian mengirimkan umpan silang. Lagi-lagi akurat. Kurniawan yang masuk menggantikan Ilham menerima umpan silang itu, tapi sayang sekali Kurniawan gagal mengubah umpan itu menjadi gol (saya lupa itu sundulan atau tendangan).
Ah, andai saja itu jadi gol! Betapa kami mungkin akan berdiri dan berteriak dan saya -- seperti biasanya jika adrenalin sudah terpacu-- akan berlari turun ke bagian bawah untuk menggoyang-goyangkan pagar pembatas sembari berteriak.
Tapi, tentu saja, tak ada pengandaian dalam sejarah. Dan, memang, tidak banyak yang bisa dilakukan saat menghadapi Arab Saudi dengan 10 pemain. Di menit 80, Arab berhasil mencetak gol lagi. 1-3. Atmosfir stadion kemudian agak meredup, dan -- seingat saya-- determinasi Boaz kemudian menurun di sisa 10 menit terakhir.
Saya keluar dari stadion dengan hati yang biasa saja, tapi sejak itu saya tahu bahwa ada satu nama yang kelewatan jika diabaikan: Boaz Solossa. Saya menuju tempat saya bekerja, sebuah galeri seni rupa di Jakarta Pusat, dengan pikiran yang jernih: memang kelewatan mengabaikan Boaz, tapi saya tahu tak mungkin berharap banyak pada dia seorang sebab sepakbola adalah dimainkan sebelas lawan sebelas.
Saya ingat pelanggaran Ismed yang membuatnya diusir dari lapangan. Pelanggaran yang tak perlu. Dan mengingat pelanggaran macam itu, saya harus tahu diri: pelanggaran Ismed itulah cermin sepakbola Indonesia, bukan Boaz, sebab Boaz hanyalah sebuah pengecualian.
Di titik itu, akal sehat yang akhirnya memutuskan. Boaz, dengan demikian, sekali lagi, ialah batu tapal kematangan saya dalam memahami sepakbola Indonesia. (Admin)
Atmosfir di GBK saat itu tidak terlalu ramai. Kalau saya tak salah ingat, suporter yang hadir tidak lebih dari 30% kapasitas stadion. Terhitung sepi, dan menjadi terasa makin sepi karena ukuran GBK yang besar dengan atap-atapnya yang tinggi. Tapi atmosfir stadion terasa menghangat tiap kali Boaz menerima bola di sisi kiri penyerangan.
Awalnya, tak banyak yang mengetahui Boaz. Tentu saja ada beberapa orang yang sudah mendengar nama Boaz karena capaian yang diraihnya di PON 2004 sebulan sebelumnya. Beberapa surat kabat juga memberi porsi yang lumayan saat Boaz dipanggil Withe. Tapi hampir bisa dipastikan hanya sedikit yang pernah benar-benar melihat bagaimana Boaz bermain dan hari itu menjadi hari pertama kami menyaksikan seorang bocah dengan badan yang terlihat agak ringkih sedang mulai menorehkan kalimat pertama dalam buku sejarah sepakbola Indonesia.
Kami tak banyak berharap, tepatnya saya tak banyak berharap, karena apa yang bisa diharapkan saat Indonesia menghadapi Arab Saudi? Lagi pula, Indonesia sudah tertinggal 1-0 di menit 8 karena kecerobohan Ismet Sofyan yang tak bisa mengantisipasi seorang pemain Arab Saudi. Kesuraman bertambah empat menit kemudian, pada menit 12, ketika Arab Saudi memperbesar keunggulan. Kesialan bertambah, jelang turun minum, karena Ismed Sofyan harus keluar lapangan karena diusir wasit menyusul pelanggaran keras.
Apa yang bisa diharapkan saat menghadapi Arab Saudi, tertinggal 0-2, dan mesti bermain 10 orang? Semua orang yang ada di GBK, kendati mungkin ada di antaranya yang menyaksikan keajaiban Man United saat mencetak dua gol di injury time di final Liga Champions 1999 sekali pun, niscaya tak akan banyak berharap.
Tapi justru dalam situasi 10 pemain itulah Boaz memperlihatkan mutunya. Mungkin karena merasa sudah unggul dalam urusan mencetak gol dan jumlah pemain, Arab Saudi bermain lebih berani, sehingga ada banyak ruang-ruang yang menganga di pertahanan Arab. Dan dari situlah Boaz mengobrak-abrik pertahanan Arab Saudi.
Dalam catatan saya, Boaz setidaknya berhasil empat kali melepaskan diri dari kawalan pemain Arab, dan dari situlah ia mengirimkan umpan-umpan silang yang sangat berbahaya. Satu umpan silang yang sangat matang ia buat di akhir babak pertama, namun sayang gagal dimanfaatkan Ilham Djayakesuma. Satu umpan silangnya yang lain, di awal babak kedua, sangat akurat mengarah kepada Ilham dan kali ini dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Gol. 1-2.
Pertandingan seakan baru saja dimulai kembali. Untuk pertama kalinya Arab Saudi�menyadari ada yang "tak beres" dengan sisi kiri penyerangan Indonesia. Dan bagi kami yang ada di tribun penonton, rasanya ada yang berbiak dalam hati tiap kali Ponaryo atau Ortizan mengirimkan umpan panjang ke sisi kiri penyerangan. Rasanya, ada sesuatu yang bisa agak sedikit diharapkan tiap kali bola berhasil dikejar oleh si bocah ingusan asal Papua itu.
Saya masih ingat, ada satu momen di mana Boaz lagi-lagi berhasil mengelabui pemain Arab Saudi, dan kemudian bersicepat dengan lawan hingga ujung lapangan dan kemudian mengirimkan umpan silang. Lagi-lagi akurat. Kurniawan yang masuk menggantikan Ilham menerima umpan silang itu, tapi sayang sekali Kurniawan gagal mengubah umpan itu menjadi gol (saya lupa itu sundulan atau tendangan).
Ah, andai saja itu jadi gol! Betapa kami mungkin akan berdiri dan berteriak dan saya -- seperti biasanya jika adrenalin sudah terpacu-- akan berlari turun ke bagian bawah untuk menggoyang-goyangkan pagar pembatas sembari berteriak.
Tapi, tentu saja, tak ada pengandaian dalam sejarah. Dan, memang, tidak banyak yang bisa dilakukan saat menghadapi Arab Saudi dengan 10 pemain. Di menit 80, Arab berhasil mencetak gol lagi. 1-3. Atmosfir stadion kemudian agak meredup, dan -- seingat saya-- determinasi Boaz kemudian menurun di sisa 10 menit terakhir.
Saya keluar dari stadion dengan hati yang biasa saja, tapi sejak itu saya tahu bahwa ada satu nama yang kelewatan jika diabaikan: Boaz Solossa. Saya menuju tempat saya bekerja, sebuah galeri seni rupa di Jakarta Pusat, dengan pikiran yang jernih: memang kelewatan mengabaikan Boaz, tapi saya tahu tak mungkin berharap banyak pada dia seorang sebab sepakbola adalah dimainkan sebelas lawan sebelas.
Saya ingat pelanggaran Ismed yang membuatnya diusir dari lapangan. Pelanggaran yang tak perlu. Dan mengingat pelanggaran macam itu, saya harus tahu diri: pelanggaran Ismed itulah cermin sepakbola Indonesia, bukan Boaz, sebab Boaz hanyalah sebuah pengecualian.
Di titik itu, akal sehat yang akhirnya memutuskan. Boaz, dengan demikian, sekali lagi, ialah batu tapal kematangan saya dalam memahami sepakbola Indonesia. (Admin)
Tahun 1974 Persipura Pernah “Dipaksa” Mengalah Mewakili Indonesia
![]() |
| Pada semifinal 9 November 1974, Persipura mengalahkan timnas Taiwan 2-0. Di laga final, Persipura melawan tuan rumah timnas Vietnam Selatan. |
Di tengah peperangan, Vietnam menggelar Quoc Khanh
Cup atau Vietnam National Day Tournament, kompetisi invitasi yang
bergulir sejak 1961 sampai 1974. Kompetisi yang selalu digelar di Saigon
ini tidak diadakan pada 1963, 1964, 1968, dan 1969.
Tim nasional Indonesia berpartisipasi pada 1961, 1962 (runner up), dan 1970. Pada kompetisi tahun 1973, Indonesia diwakili oleh Persija Jakarta yang pulang membawa trofi setelah mengalahkan Malaysia 3-2.
Pada kompetisi terakhir tahun 1974, Indonesia diwakili oleh Persipura Jayapura. Rombongan tim dipimpin oleh Gubernur Irian Jaya Brigjen TNI (Purn.) Acub Zainal. Untuk biayanya, dia meminjam sebesar Rp.30 juta dari uang tanah ulayat masyarakat adat Suku Wadi, Bano, Merabano, Nasadit dan Sem.
Acub memberangkatkan Persipura tanpa restu Menteri Dalam Negeri Amirmahmud. Persipura transit di Singapura sebelum ke Saigon untuk mengikuti turnamen yang digelar pada 1-10 November 1974.
“Saya nekat dan ngawur. Waktu saya memimpin Irian, bola adalah alat untuk kebanggaan Irian. Suatu saat kita mau bawa ke Bangkok, saya minta izin pada Pak Menteri Amir Machmud. Jawabannya: ‘Ada apa nih, si Acub? Masak gubernur bawa (tim) bola ke Bangkok?’” kenang Acub dalam biografinya, Acub Zainal: I Love the Army.
“Buat saya ini pertama kali membawa nama bangsa. Zonder (tanpa) izin dari Yang Mulia Menteri, saya berangkat. Saya berhenti dulu di Singapura satu malam, menyesuaikan diri,” imbuh Acub.
Di Singapura, Acub bertemu dengan Jenderal TNI Surono Reksodimedjo, wakil panglima ABRI. Surono meminta kepada Acub agar Persipura mengalah. Bukan untuk uang melainkan atas nama solidaritas sesama bangsa Asia Tenggara yang tengah dilanda perang.
“Keadaan Vietnam sedang gawat. Pak Soerono minta kalau bisa kesebelasan yang saya bawa jangan sampai menang. Berikan kesempatan pada mereka (Vietnam) untuk bergembira. Saya dapat perintah begitu,” ungkap Acub.
![]() |
Kesebelasan
Persipura berkunjung ke Istana Negara 22 Maret 1973 sebelum bertanding
melawan Klubb Hitachi dari Jepang pada 23 Maret 1973. Pada pertandingan
melawan Hitachi tim Persipura kalah 2-1. (Ist/Dok.PB)
|
Di semifinal pada 9 November 1974, Persipura mengalahkan timnas Taiwan 2-0. Di laga final, Persipura melawan tuan rumah timnas Vietnam Selatan pada 10 November. Acub teringat permintaan Surono agar tidak juara.
“Di final akhirnya saya kalahkan. Kita cuma jadi juara dua, bukan juara pertama,” tandas mantan Panglima Kodam Cendrawasih Irian Jaya itu.
Persipura harus rela menjadi runner up setelah kalah 0-2 dari Vietnam Selatan. Persipura urung menyamai Persija Jakarta yang menjuarai turnamen itu setahun sebelumnya. Inilah harga dari solidaritas antarbangsa Asia Tenggara.
Sumber: Historia.ID
5 Klub Asia Tenggara dengan Prestasi Paling Baik di Kompetisi Internasional Asia
![]() |
| Johor Juara AFC cup 2015 (http://www.the-afc.com) |
Federasi Sepakbola Asia atau yang lebih sering dikenal dengan AFC
memiliki sejumlah kompetisi internasional antar klub. Dua kompetisi
internasional yang paling sering diikuti klub asal Asia Tenggara adalah
AFC Champions League dan AFC Cup. Dan berikut merupakan 5 klub Asia
Tenggara yang paling sukses di dua ajang tersebut dalam 10 tahun
terakhir digelarnya kompetisi Asia yang dilansir dari the-afc.com
(07/07/2017).
1. Johor Darul Takzim
1. Johor Darul Takzim
![]() |
| Logo Johor darul Takzim (http://kickbola.blogspot.co.id |
Johor Darul Takzim bisa dikatakan klub Asia Tenggara yang paling sukses
di kompetisi internasional Asia sejauh ini. Bukti nyata bahwa mereka
paling suksesadalah mereka pernah menjadi juara AFC Cup tepatnya juara
AFC Cup 2015. Mereka juga sudah menjadi semifinalis AFC Cup 2016.
2. Buriram United
2. Buriram United
![]() |
| Logo Buriram United (http://www.futbol24.com) |
Buriram United merupakan salah satu klub Asia Tenggara yang paling
sukses di kompetisi internasional Asia. Mereka sukses menembus babak 8
besar AFC Champions League 2013.]
3. Persipura Jayapura
3. Persipura Jayapura
![]() |
| Logo Persipura (http://www.idezia.com) |
Klub asal Indonesia ini juga merupakan salah satu klub Asia Tenggara
yang cukup sukses di kompetisi internasional Asia, dengan prestasi masuk
semifinal AFC Cup 2014.
4. Chonburi FC
4. Chonburi FC
![]() |
| Logo Chonburi FC (http://www.futbol24.com) |
Chonburi FC juga merupakan salah satu klub Asia Tenggara di kompetisi
internasional Asia. Mereka pernah sukses menembus babak semifinal AFC
Cup 2012.
5. Muangthong United
5. Muangthong United
![]() |
| Logo Muangthong United (http://www.futbol24.com) |
Muangthong United juga merupakan salah satu klub Asia Tenggara dengan
prestasi yang cukup baik di kompetisi internasional Asia. Klub yang
terhenti di babak AFC ChampionsLeague 2017 ini pernah mengukir prestasi
masuk semifinalis AFC Cup 2010.
Demikian informasi mengenai 5 klub Asia Tenggara dengan pencapaian terbaik di kompetisi internasional Asia di era modern ini. Daftar diatas merupakan hasil dari penampilan terbaik klub asal Asia Tenggara yang bermain di kompetisi internasional Asia seperti AFC Champions League dan AFC Cup dalam patokan 10 tahun terakhir kompetisi internasional Asia. Jadi prestasi klub asal Asia Tenggara di ajang internasional Asia dahulu kala tidak termasuk dalam daftar ini.
Sumber:http://c.uctalks.ucweb.com
Demikian informasi mengenai 5 klub Asia Tenggara dengan pencapaian terbaik di kompetisi internasional Asia di era modern ini. Daftar diatas merupakan hasil dari penampilan terbaik klub asal Asia Tenggara yang bermain di kompetisi internasional Asia seperti AFC Champions League dan AFC Cup dalam patokan 10 tahun terakhir kompetisi internasional Asia. Jadi prestasi klub asal Asia Tenggara di ajang internasional Asia dahulu kala tidak termasuk dalam daftar ini.
Sumber:http://c.uctalks.ucweb.com
Regulasi Ditangguhkan, Persipura Merasa Dirugikan
Jayapura, Neg - Ketua Umum Persipura Jayapura, Benhur Tommy Mano, menilai penangguhan regulasi pemain U-23 yang dilakukan pengelola Liga I sangat merugikan tim.
"Apa yang dilakukan oleh Liga Indonesia Baru dengan menangguhkan regulasi pemain U-23 hingga 30 Agustus 2017 adalah janggal, tidak konsisten dan sewenang-wenang," ujarnya.
"Hal ini juga merugikan tim karena persiapan yang kami [Persipura] lakukan berdasarkan regulasi awal, walaupun sejak awal regulasi itu dipertanyakan banyak pihak, termasuk kami dan klub peserta lainnya. Kenapa janggal dan tidak konsisten?"
Menurut dia kondisi seperti ini sama sekali tidak dibahas saat penetapan regulasi sebelum kompetisi dimulai. Namun tiba-tiba penangguhan ini muncul dengan alasan yang tidak jelas.
"Mereka bilang karena jumlah pemain dari klub yang dipanggil ke timnas tidak merata. Nah ini kan pernah dibahas dulu dan mereka bilang itu risiko, harus dilihat kepentingan nasionalnya, tapi sekarang berubah," katanya.
Dikatakannya bahwa penerapan regulasi pemain U-23 adalah untuk pembinaan pemain muda, dan hal ini diikuti oleh tim Persipura dengan menyiapkan tim memberikan porsi kepada pemain muda.
"Eh, mereka malah ubah. Kalau pembinaan berarti harus merata, kalau seperti ini berarti pemain yang tidak dipanggil ke timnas tidak mendapatkan menit bermain, dan pembinaan jadi terputus, pemain muda diabaikan, yang dipentingkan hanya pemain yang dipanggil timnas. Di mana unsur pembinaannya?" katanya.
Sumber:m.liputan6.com
Tinju Dunia: Hitungan Komputer, Pukulan Pacquiao Lebih Banyak Tapi Kalah
![]() |
| Manny Pacquiao vs Jeff Horn (Photo:Ist) |
Australia, Neg,-- Menurut penghitungan melalui komputer oleh Compubox Inc, Manny Pacquiao lebih banyak memasukkan pukulan ketimbang Jeff Horn dalam laga tinju dunia di Brisbane, Australia, Minggu, 2 Juli 2017. Namun hakim memutuskan bahwa kemenangan angka mutlak menjadi milik Horn, petinju tuan rumah.
Pertandingan Pacquiao versus Horn dipimpin oleh wasit asal Amerika Serikat, Mark Nelson. Lantas tiga hakim yang memberikan penilaian, dua berasal dari Amerika Serikat, yaitu Waleska Roldan dan Chris Flores. Satu hakim lagi, Ramon Cerdan berasal dari Argentina.
Roldan memberikan Horn kemenangan 117-111, sedangkan Flores dan Cerdan memberikan angka 115-113 juga untuk kemenangan Horn.
Pacquiao memasukkan 59 jab, sedangkan Horn 19 dalam pertarungan tinju dunia versi WBO tersebut. Demikian juga dari sisi pukulan telak, Pacquiao melesakkan 123 pukulan sedangkan Horn 73 pukulan.(Admin)
Sumber: m.tempo.co
Futsal Competition Hadiah Bergengsi Piala MABA Se-pegunungan tengah Papua 2017
Surabaya, Neg,-- Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Se-Pegunungan Tengah Papua. Mengadakan turnamen dalam rangkah pencarian dana untuk menyukseskan acara penerimaan maba bulan agustus mendatang.
Eris Wenda, Koordinator penyelenggara Kompetisi futsal mengatatakan, kegiatan ini tujuannya dalam rangkah pencarian dana untuk menyukseskan acara penerimaan maba bulan agustus mendatang nanti. Dan juga pertandingan ini selain dalam rangka pencarian dana juga dapat menjadi ajang untuk menjalin silahturami dan memper erat tali persaudaraan mahasiswa/I Papua.
Maka itu sangat diharapkan agar semua rekan-rekan Mahasiswa/I Papua untuk segera datang dan mendaftarkan diri."
Pastikan
kalian daftar tim terbaik kalian. Bola sudah mendara daging dengan
orang Papua, sehingga tidak ada orang papua yang tidak bisa bermain bola
bukan ? Kata Eris
Mari
teman-teman tingkatkan minat dan bakat bola-MU pada kesempatan ini,
datang tunjukan skill dan kreativitas permainan tim-MU dikesempatan ini.
Kami tunggu ! Tutupnya
Ayoo Pace/Mace,Sdr/I,Bung/Rekan........
Datang daftarkan tim terbaik mu di (Turnamen Maba sepegunungan tengah papua) Kategori Umum.
Tim putra dan putri pendaftaran terbatas:
Biaya pendaftaran:
Datang daftarkan tim terbaik mu di (Turnamen Maba sepegunungan tengah papua) Kategori Umum.
Tim putra dan putri pendaftaran terbatas:
Biaya pendaftaran:
Putra Rp:300.000
Putri Rp.250.000
Tempat : Lap.Kuang-kunang (Belakang stikom)
Jam :02.00-09.30
Tanggal : 13-16 Juli 2017
Ayo.....Lama lewat lewat kwn2, info lebih lanjut hub CP dibrosur. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama kawan-kawan, salam kompak !
BTM Isyaratkan Pelatih Baru Persipura Pieter Huistra Asal Belanda
Jayapura,Neg- Mulai terkuak pelatih Persipura Jayapura yang baru. Siapakah dia?. Manajemen Persipura memang belum mengumumkan secara resmi kepada publik siapa sosok pelatih baru Mutiara Hitam itu.
Ketua umum Persipura Benhur Tomi Mano hanya mengisyaratkan pihaknya sedang bernegosiasi dengan calon pelatih baru. Dia hanya mengisyaratkan, bahwa yang sedang dijajaki adalah mantan direktur teknik PSSI Pieter Huistra. Minggu (11/6/2017).
Pieter Huistra. Ya, ia sebelumnya pernah menjabat pelatih sementara tim nasional senior Indonesia menggantikan Benny Dollo. Sebelumnya pria kelahiran 18 Januari 1967 itu ditugasi PSSI dan BTN sebagai direktur teknik.
Dia adalah sosok yang waktu itu ditugaskan memimpin Boaz Salossa dan kolega, tampil di dua laga awal kualifikasi Piala Dunia 2018 pada periode Juni. Di mana Indonesia yang tergabung di Grup F bersama China Taipei, Vietnam, Irak, dan Thailand.
Benhur Tomi Mano mengatakan pelatih asal Belanda itu dilaporkan sudah tiba di Jakarta, Minggu (11/6/2017) siang. Siapa namanya dan rekam jejaknya akan diinformasikan selengkapnya setelah mendapat laporan dari manajer Persipura.
BTM berharap, kedatangan pelatih asal belanda itu dapat kembalikan kejayaan permainan Boaz Solossa dan kawan-kawan. Ya, kami berharap pelatih baru ini dapat bekerja sama dengan para asisten dan pemain.
Tomi Mano juga menghimbau masyarakat Papua untuk terus mendukung Persipura. Sebab, berbagai kritik dari masyarakat untuk Persipura harus kontrak pelatih asing, tetapi perlu diketahui bahwa manajemen masih kesulitan anggaran. Apalagi musim ini, tidak ada sponsor dari PT. Freeport Indonesia.
Dukungan dan harapan dari manajemen adalah ketika Persipura bertanding di Mandala, masyarakat yang cinta Persipura bisa datang penuhi stadion dan berikan dukungan penuh kepada tim Persipura.
Mantan kapten Persipura Nando Fairyo mengatakan keputusan manajemen datangkan pelatih asing momenya sudah sangat tepat.
Nando berharap pelatih asing baru Persipura ini bisa mengembalikan serta mengangkat performa tim kebanggaan rakyat Papua ini pada jalur kemenangan yang diinginkan.(Admin)
Sumber:TabloidJubi.com
5 Jenis Olahraga Paling Ekstrim di Dunia
Jenis olahraga di dunia sangatlah banyak. Mulai dari olahraga ringan sampai berat, olahraga aman sampai olahraga berbahaya. Jenis-jenis olahraga tersebut memiliki penggemarnya sendiri. Salah satu jenis olahraga yang banyak disukai atau digemari adalah olahraga ekstrim. Dan berikut merupakan 5 jenis olahraga ekstrim yang ada didunia.
1. Base Jumping
![]() |
| Olahraga ekstrim Slacklining (Image: http://www.planetsurfonline.com) |
Olahraga ini merupakan salah satu yang paling ekstrim didunia. Kegiatan olahraga ini adalah dengan melompat dari suatu tebing dan membuka parasut secepat mungkin supaya bisa melakukan pendaratan dengan baik dibawah tebing tersebut. Dilansir dari planetsufonline (04/11/2014), ada 1 kematian dari 2.317 lompatan olahraga ini, menunjukkan betapa fatal dan ekstrimya jenis olahraga ini. Telat atau gagal buka parasut merupakan hal yang paling umum penyebab kematian dari olahraga ini.
2. Panjat Tebing (Rock Climbing)
![]() |
| Rock Climbing (Image: http://masirul.com) |
Jenis Olahraga ini termasuk salah satu yang paling ekstrim dibandingkan olahraga lain. Olahraga ini adalah olahraga mendaki bukit atau gunung dengan cara memanjat tebing. Kekuatan fisik, mental, keseimbangan, kelincahan serta teknik harus tepat jikalau tidak mau berakibat fatal dalam olahraga ini. Dilansir dari masirul.com (13/05/2017), biasanya resiko dari olahraga ini adalah luka gores dan kematian.
3. Free Climbing
![]() |
| Free Climbing (Image: www.shopback.co.id) |
Olahraga yang satu ini mirip dari olahraga panjat tebing. Akan tetapi resiko olahraga ini jauh lebih besar dibandingkan panjat tebing diatas. Tujuan free climbing sama dengan panjat tebing yaitu memanjat sebuah tebing. Akan tetapi jenis olahraga ini dilakukan tanpa pengamanan apapun. Jadi apabila terjadi suatu kesalahan, maka dampaknya sangat fatal.
4. Terjun Payung (Sky Diving)
![]() |
| Sky Diving (Image: http://urusandunia.com) |
Terjun Payung adalah olahraga dengan melompat dari pesawat dari ketinggian tertentu dengan melengkapi diri dengan parasut. Dilansir dari urusdunia.com (24/05/2017), olahraga ini merupakan salah satu olahraga ekstrim yang jikalau melakukan kesalahan satu kali aja, tidak akan ada kesempatan kedua untuk hidup.
5. Slacklining
![]() |
| Slacklining (Image: http://www.tentik.com) |
Olahraga ini adalah yang ekstrim. Bayangkan saja jika anda sudah profesional, anda berjalan hanya diatas sebuah tali dari dua bukit untuk melewati jurang. Dilansir dari tentik.com (24/05/2017), tali yang digunakan adalah tali nilon yang biasanya digunakan untuk panjat tebing dengan ukuran 1 inchi saja. Dan biasanya ketinggian dari olahraga ini dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing pesertanya untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
Demikian 5 jenis olahraga paling ekstrim didunia. Jika anda ingin menguji kemampuan anda, anda bisa memulai dari yang nomor 5 demi keselamatan anda sebelum mencoba 4 lainnya.
5 Pemain Sepakbola Paling Mahal di Indonesia
Sepakbola merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Baik pertandingan level tim nasional maupun klub selalu saja menjadi perhatian warga negara Indonesia. Pemain-pemain top sepakbola nasional juga selalu jadi perhatian publik tanah air. Kali ini, perhatian kita tujukan kepada siapa saja pemain sepakbola asli Indonesia termahal saat ini, dan berikut merupakan 5 pemain Indonesia yang memiliki harga paling mahal saat ini dilansir dari transfermarkt.com (12/06/17).
1. Boaz Solossa
![]() |
| Boaz Solossa (Image: www.sidomi.com) |
Siapa yang tidak kenal dengan kapten tim nasional Indonesia dan Persipura Jayapura ini. Pemain yang memiliki skill diatas rata rata pemain lokal lainnya ini sudah terbukti kualitasnya dalam bermain sepakbola. Hal ini menjadikan Boaz Solossa menjadi pemain termahal di Indonesia saat ini. Saat ini, Boaz Solossa memiliki total nilai pasar sebesar 350 ribu euro (sekitar 5,2 miliar rupiah), yang menjadikan Boaz Solossa menjadi pemain Indonesia termahal saat ini.
2. Sergio Van Dijk
![]() |
| Sergio Van Dijk (Image: www.mediajabar.com) |
Pemain naturalisasi Indonesia merupakan pemain Indonesia termahal ke-2 setelah Boaz Solossa. Dengan kualitas dan pengalaman pemain bintang Persib Bandung yang pernah menjadi top skor kasta tertinggi liga sepakbola Australia ini menjadikan harga pemain ini tinggi. Saat ini total nilai Sergio Van Dijk sebesar 250 ribu euro (sekitar 3,7 miliar rupiah).
3. Victor Iqbonefo
![]() |
| Victor Iqbonefo (Image: www.bola.com) |
Lama tak terdengar nama pemain naturalisasi Indonesia Ini. Saat ini Victor Iqbonefo bermain di kasta tertinggi sepakbola Thailand bersama Korat FC. Bermain di liga sepakbola terbaik Asia Tenggara, membuat harga seorang Victor Iqbonefo tidaklah murah. Saat ini Victor Iqbonefo memiliki total nilai pasar sebesar 200 ribu euro (sekitar 2,97 miliar rupiah).
4. Stefano Lilipaly
![]() |
| Stefano Lilipaly (Image: www.detik.com) |
Stefano Lilipaly adalah pemain keturunan Indonesia-Belanda yang saat ini berkiprah di kasta kedua liga Belanda bersama SC Cambuur. Berkiprah di Liga Eropa tentu membuat harga pemain ini mahal untuk kategori Indonesia. Saat ini, Stefano memiliki total nilai pasar sebesar 200 ribu euro (sekitar 2,97 miliar rupiah).
5. Ahmad Jufrianto
![]() |
| Ahmad Jufrianto (Image: www.fourfourtwo.com) |
Pemain belakang andalan Persib Bandung ini tenyata merupakan salah satu pemain Indonesia yang memiliki harga nilai transfer yang mahal saat ini. Pernah membela tim nasional Indonesia dan mengantarkan Persib Bandung juara jelas akan mendongkrak nilai transfer sang pemain. Saat ini, Ahmad Jufrianto memiliki nilai pasar sebesar 175 ribu euro (sekitar 2,6 miliar rupiah).
Demikian 5 pemain berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki nilai transfer termahal saat ini. Pemain-pemain diatas merupakan pemain yang memang memiliki kualitas baik dalam bermain sepakbola. Bukti dari kualitas mereka adalah bahwa mereka semua adalah pemain yang pernah bermain untuk tim nasional Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Recent Posts
IVENT


























